HOTELIER page 11
Tentang pengorbanan dan Mimpiku
Author POV
Ini sudah pukul 11 malam waktu setempat.
Tapi kendaraan di jalan
masih saja ramai berlalu lalang dengan santainya . Memang sangat santai
sampai seseorang berjas hitam kelam berjalan tanpa sadar berada dimana
ia sekarang.
Ketika menemui sebuah tikungan tajam ,matanya meruncing , ia ingat betul menuju kemana tikungan tersebut.
Anggaplah ia sedang menimbang-nimbang apa yg mesti ia lakukan sekarang.
Minum soju di kedai yg
ada di sebrang jalan kah ? Atau melanjutkan perjalanan untuk menuju
tempat yg sedari tadi menari-nari di kepalanya .
Sejujurnya ia sudah
sangat lelah berjalan selama kurang lebih 2 jam ,belum lagi tubuhnya tak
dilegkapi mantel bulu kesayangannya ataupun sebuah payung.
Ia hanya menuju tujuan
utamanya, yaitu mencari sosok pemuda berbahu mungil dengan pesona mata
kucing yg tak seorang pun memilikinya.
_
_
_
Lee Jinki baru saja melewati tikungan tajam tersebut , merasakan udara malam semakin menusuk dadanya akibat jalanan menanjak.
Dan ketika itu pula ,air dari lagit berjatuhan membasahi sekujur tubuhnya lebih dahsyat lagi.
Semestinya ia membawa
mobilnya sejak tadi , dibanding berjalan tanpa arah seperti orang bodoh ,
kendati tujuanya memang rumah Kim Kibum yg jalannya amat di hafalnya.
Rupanya alam sedang tak bersahabat dengannya, namun pencarian Kim Kibum tetap harus dilakukannya.
Meski ia tak bisa menemukan Kibum di rumahnya , ia harap ada Jonghyun yg bersedia memberikan teh jali hangat untuknya.
Sungguh ia lebih
berharap lagi ada Kibum yg bisa mendengarkan segala keluhannya ketika
berjalan selama 2 jam tadi demi sebuah penjelasan ,dan setelah itu
bertanya tentang apa yg di fikirkan oleh Kibum sekarang.
Meski itu harapan yg tak mungkin , sebab ia telah ditinggalkan .
Apa boleh buat , Lee Jinki bukan pria yg mudah menyerah ,maka dari itu ia tetap berfikir tentang harapannya.
Ting
Tong
Tangannya menekan bell kuat-kuat.
Berdoa semoga ada orang di rumah.
Ia berteduh di balik tembok pagar yg sudah usam dimakan usia, agar setidaknya tubuhnya bisa sedikit terlindungi.
Ia tak boleh sakit , sebab ia masih harus berjuang untuk masa depannya bersama Kim Kibum. Fikirnya.
Ceklekkk
Ketika pintu terbuka ia bisa melihat wajah kuyu dari sosok berkantung mata tebal mengandah bertanya.
"Jinki-ssi .... ? Sedang apa kau disini ? Kajja ... masuklah !!!"
Sergah tuan kantung mata bernama Kim Jonghyun itu segera menariknya untuk masuk.
Beruntung Jonghyun langsung menyuruhnya masuk tanpa bertanya apapun .
Jinki mengekor di belakang Jonghyun dengan keadaan basah kuyup .
Tak sampai semenit ia
mendapatkan handuk dari Jonghyun yg kemudian membimbingnya untuk duduk
di meja mungil yg biasa di pakai oleh Kibum dan Jonghyun untuk makan
ataupun selebihnya.
Hyung beralis tebal itu memberikan segelas teh jali hangat seperti harapan Jinki.
"Gomawo Jonghyun-ssi"
Segera saja Jinki menyambar teh panas itu .
"Hati-hati , itu masih panas"
Ujar Jonghyun mengingatkan ,setelahnya benar saja Jinki merasakan mulut dan lidahnya seperti melepuh.
Ia bahkan hanya tersenyum menyadari tindakan kurang sabarnya.
"Apa yg kau lakukan malam begini ? Bukankah di luar hujan ? Apa kau tak bawa mobil? "
Tanya Jonghyun seraya menuangkan lagi teh jali di cangkir Jinki yg sudah kosong.
Jinki tak berniat menjawab pertanyaan Jonghyun , ia lebih memilih untuk langsung ke pokok permasalahan.
"Apa Kibum tidak ada disini,?"
Tanya Jinki sambil meniup gelasnya.
"Anni ... bukankah dia bersamamu ? Ku kira ia akan tinggal di rumahmu lebih lama?"
"Inginku juga begitu .
Tapi ternyata ia malah meninggalkanku . Mungkin ini terlihat sedikit
memalukan untukku , tapi baru saja 2 jam yg lalu ia menolak lamaranku "
Penjelasan itu membuat mata Jonghyun hampir melompat .
"Menolak ? Lalu apa alasannya ? "
"Entah . Dia bilang sudah tak mencintaiku lagi , apa menurutmu itu masuk akal ?"
Pertanyaan Jinki itu
membuat Jonghyun teringat pada sosok adiknya yg begitu polos , dan
selalu membicarakan kebahagiaannya bersama Jinki.
Sedetik kemudian ia menggeleng cepat , menyetujui ketidak masuk akalan keputusan Kibum.
"Aku tahu betul apa yg dirasakannya , jadi percayalah kalau itu bohong"
Keyakinan Jonghyun itu sudah pasti bisa di pertanggung jawabkan.
Trakkk
Tiba-tiba saja suara yg berasal dari pintu terbuka menyita perhatian mereka berdua.
Nampaklah Kibum dengan wajah kuyu, tubuh basah kuyup dan mata yg sembab memasuki area tempat Jinki dan Jonghyun berada.
"Bum ?!!!" Seruan
Jonghyun mengandah bertanya. Sekilas Kibum melirik ke arah Jinki lalu
segera pergi dari tempatnya berdiri sekarang.
Kibum masih belum siap
bertemu dengan Jinki sekarang , hatinya terlalu lemah dan sakit untuk
menanggung segala beban fikirannya. Ditambah beban yg baru saja di
terimanya.
1 jam sebelumnya.
Kibum berdiri di hadapan Lee myung jin dengan kaki gemetaran , nafas yg kembang kempis dan emosi yg tak terlampiaskan.
Plukkkk
Lee myung jin melemparkan sebuah amplop putih ke hadapan Kibum. Senyuman penuh arti menghiasi wajahnya.
"Karena kau tidak mau
menyerahkan proyek Gold Diamond padaku , maka ini adalah 100 juta dolar
untukmu . Dan pergilah dari Korea . Ku rasa aku pun tak mungkin
membiarkanmu berada terus di Korea dan mengganggu anakku. "
Kibum menatap amplop yg ada di aspal tersebut ,
lalu mengambilnya.
Sreekkk
Sreekkk
Sreeekkk
Mata Myung Jin membulat terkejut melihat tangan Kibum kini merobek cek 100 juta dolar itu dengan entengnya.
Tetapi Lee myung jin adalah manusia yg memiliki seribu wajah , ia kendalikan keterkejutannya dan kemudian tersenyum.
"Ahahahahaha..... ahahahahaaaa.... kau merobeknya ? Sepertinya kau sangat keras kepala...Dasar bocah tolol "
Celetuknya .
"Mungkin aku memang
tolol . Tapi setidaknya aku masih memiliki hati nurani . Aku tak mungkin
menukar orang yg ku cintai dan ku sayangi demi uang . Aku bukan orang
sepertimu yg dengan mudah menukar anaknya demi uang ,lalu membiarkan
anaknya menderita selamanya. Maaf aku masih memiliki hati , karena aku
adalah manusia "
Seketika tawa myung jin
sirna dari wajahnya . Sedikitnya ia terangsang oleh ucapan Kibum itu .
Tentang dirinya yg tak berperasaan , itu bukanlah sesuatu yg terjadi
sejak ia lahir , karena manusia di ciptakan dengan akal dan fikiran yg
bereaksi melalui hati lalu perbuatan.
Dahulu Lee myung Jin adalah orang yg sempurna dimata orang banyak .
Dicintai banyak orang di sekelilingnya , dan oleh seorang wanita yg sudah sejak lama bersamanya.
suatu ketika ia
mendapati bahwa kenyataan begitu menyakitkan . Disaat ia sengaja di
tinggalkan oleh orang tua yg begitu di hormati dan di cintainya.
Ia di jual ke sebuah
komplotan gengster dan menjadi budak disana. Budak dari segala kegiatan ,
mulai dari budak pesuruh sampai budak sex para komplotan gengster yg
menginginkannya.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang gadis bernama Shin Ok jung .
Gadis muda yg begitu
cantik dan mulai mewarnai hidup Myung jin dari kegelapan . Gadis itu
berhasil membawa myung jin dari keterpurukan menuju masa depan yg
cemerlang. Dari tahun ke tahun usaha motel kecil yg digelutinya semakin
maju hingga setaraf dengan usaha kelas menengah.
Akan tetapi ketika suatu
saat Ok Jung mengetahui segala cerita di balik kesuksesan Myung Jin ,
Gadis itu kecewa pada myung Jin yg merebut lahan panti asuhan tempat Ok
jung mengasuh anak-anak yatim piatu untuk di jadikan sebuah gedung hotel
yg saat ini menjadi Diamond hotel .
Tempat yg merupakan
rumah bagi Ok Jung sedari ia kecil itu di rampas tanpa ampun oleh orang
yg ia cintai , membuat gadis itu kecewa . Disanalah Gadis yg merupakan
cinta sejati Lee myung jin meninggalkannya selamanya, menyisakan api
dendam yg tak pernah padam kepada siapapun , sampai akhirnya kini
terlampiaskan melalui anak-anak kandunnya sendiri.
*****
Myung Jin menatap wajah pemuda kuyu namun dengan tatapan berani di hadapannya.
"Kau melakukan semua ini
karena cinta ? Ahahaha , kau ini lucu sekali. Justru aku malah semakin
yakin kalau jumlah 100 juta dolar adalah jumlah yg kecil bagimu . Kau
menginginkan Diamond hotel bukan ? Cintamu pada anakku itu palsu ."
Kibum mengerutkan dahinya .
"Tuan. Kau adalah orang
tercerdas yg pernah ku temui , aku yakin kau bisa melihat semua
ketulusan dari mataku . Dan aku sendiri melihat api kekecewaan dalam
matamu . Entah apa yg terjadi padamu dimasa lalu , dan siapa yg telah
menyebabkan dirimu kecewa sampai kau menjadi monster seperti ini .
Tetapi aku hanya ingin mengatakan , sejauh apapun kau memupuk perasaan
dendam dalam hatimu , pada akhirnya kehancuranlah yg akan kau dapatkan "
"KAU !!!!........."
"Dan sejauh apapun kau
menghindari rasa kecewamu di dalam kegelapan , maka kau sendiri akan
tenggelam di dalamnya jika kau tak menghadapinya dengan berani .
Seharusnya kau menghadapi dan melaluinya dengan tegar jika kau memang
benar-benar orang yg kuat . Lalu setelahnya kau memulai kembali
kehidupan barumu dengan indah tuan. Bukannya membalaskan semua
kekecewaanmu melalui Jinki ataupun Taemin . Karena Lee Jinki dan Taemin
tidak bersalah . Terutama Jinki , ia adalah makhluk polos yg telah kau
hancurkan hidupnya . "
Rentetan penjelasan dari
Kibum itu membuat myung jin terpaku . Pemuda yg myung Jin yakini
sebagai pemuda ingusan dan menjijikan itu seperti mengetahui apa yg
terjadi padanya di masa lalu .
Apa daya Lee Myung jin sekarang ?
Ia hanya melongo menyadari kebenaran atas pemikiran Kibum.
Mungkin ia memang bisa
melakukan apapun demi mendapatkan keinginannya . Namun ia tetap tidak
akan bisa mengubah kenyataan , kenyataan kalau selama ini dirinya telah
membalaskan rasa dendamnya pada anak-anaknya sendiri.
Sekali myung Jin menarik nafas dan berkata.
"Kau terlalu banyak bicara . Sebaiknya kau pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku . "
*******
Sekarang Lee Jinki tengah berdiri di hadapan pintu kamar Kibum .
Menggedor pintu kamar yg telah usam dimakan usia itu dengan kuatnya.
Dug
Dug
Dug
"Kibum-ahh ... tolong
buka pintunya ... kau harus menjelaskan dulu padaku apa yg terjadi
sampai kau menolakku .Bum-ahh !!! Kim kibum !!! "
Apapun yg dikatakan oleh Jinki , Kibum tetap saja bersikukuh diam .
Duduk telungkup di depan pintu kamarnya sama yg di lakukan Jinki sekarang .
Punggung mereka hanya di batasi selembar pintu kayu .
Merasakan kembali kepedihan bersama-sama .
"Aku akan tetap
menunggumu disini bum ... sampai kau keluar dan menjelaskan semuanya . "
ujar Jinki kembali dudul bersandar di depan pintu .
Sementara itu orang yg Jinki tunggu,hanya bisa menangis , menangisi tentang kenapa semua ini harus terjadi pada hidupnya.
Manisnya cinta yg baru saja ia rasakan nampak seperti mimpi .
Betapa sulitnya hidup bahagia .
Haruskah Kim Kibum menuntut Tuhan ke pengadilan agar bisa bersikap adil padanya ?
Tentu saja itu bukan tindakan yg rasional .
Entahlah ...
Yg jelas sekarang pemuda
penuh penderitaan itu ingin istirahat dan tidur . Agar ia bisa kembali
memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menjalani semua masalahnya.
Matanya mulai terpejam dan dalam beberapa menit ia sudah terjaga dalam tidurnya.
*******
Kibum POV
Pagi ini aku telah
menyiapkan semua barang-barangku dan hyung , meski tak semuanya ,
termasuk rumah ini yg tak akan pernah ku jual .
Meski hati ini tak ingin pergi , namun aku harus tetap pergi.
Tuhan pasti tahu apa yg ku lakukan untuk orang-orang yg ku sayangi .
Aku tak pernah menyesali pertemuanku dengannya . Ya ... dengan Lee Jinki .
Karena bukan ialah penyebab penderitaanku , akan tetapi ayahnya.
Senyumannya masih sangat ku hafal , dan aroma tubuhnya selalu ku cium serasa ia berada di sampingku .
Aku akan pergi meninggalkannya sendirian lagi seperti dulu .
Mungkin butuh waktu setahun dua tahun untukknya melupakanku .
Aku yakin ia akan
kembali mendapatkan kebahagiaan yg lain dalam hidupnya , karena setahuku
Tuhan tak akan pernah meninggalkan orang sepertinya dan orang seperti
aku , yaitu orang yg setidaknya memiliki hati untuk mengorbankan
kebahagiaannya dan orang yg tak berdosa seperti Jinki.
Meskipun Tuhan
meninggalkannya , maka aku akan meminta pada Tuhan agar menukarkan
kebahagiaanku untuknya . Setidaknya itu cukup membuatku tenang .
Masa-masa sulit sekarang ini pasti akan berubah menjadi masalalu di kemudian hari .
Gwenchana.....
Dan masa-masa kehidupan manis kami berdua pasti akan tetap menjadi kenangan yg indah untukku.
"Sebenarnya ada masalah apa sampai kita harus pindah bum?"
Celetuk hyung bertanya .
Sebab ia memang tak mengerti dengan jalan fikiranku sekarang ini .
Aku hanya tersenyum
simpul padanya , sejujurnya aku pun bingung harus menjelaskan apa
padanya, akan lebih baik jika aku mengatakan padanya kalau aku tak
mencintai Jinki lagi .
"Aku rasa hidup di Seoul
sangat sulit hyung , kita selalu kekurangan bukan ? Dan lebih mudah
hidup di desa seperti saat kita kecil dulu . Orang-orang desa selalu
bersedia berbagi makanan dengan kita meski kita tak punya uang ,
bukankah itu bagus ?"
"Ada apa antara kau dan Jinki,? Bisakah kau memberitahuku ?"
Mendengar ungkapan serius itu aku merasa kalau hyung sungguh-sungguh memperhatikan hubunganku dengan Jinki sekarang.
Tetapi aku tak ingin membuat
"Aku dan dia sudah
berakhir hyung . Eummmm jujur saja Jinki itu punya sifat yg buruk , dan
dia juga dingin, terlebih ia itu terlalu kaya , kau tahu betul bukan
seperti apa orang kaya hyung ? Hehee"
Sebetulnya ini ungkapan terbodoh yg pernah ku ucapkan seumur hidupku.
"Bohong !! Kau fikir aku ini siapa? Aku adalah hyungmu sejak kau lahir , jadi aku tahu saat kau berkata bohong . "
Ya ... aku salah mengatakan itu . Sudah pasti hyung akan mengetahuinya.
Namun aku harus tetap berusaha meyakinkan hyung untuk pergi bersamaku.
"Eummm bisakah sekarang
ini kau hanya menuruti apa mauku hyung ? Aku mohon jangan bertanya lagi
mengenai hubunganku dan Jinki . Kami sudah berakhir , dan aku menganggap
kalau kami tidak berjodoh."
Hyung terdiam ,matanya menerawang kearahku , aku tahu ia berusaha membaca ekspresi wajahku saat ini .
"Ada banyak beban
fikiran yg kau pikul bum ... aku tahu itu . Beban yg sangat berat sampai
kau harus merelakan kebahagiaanmu . Kau boleh menahan semua beban
beratmu itu selagi kau kuat , namun ketika kau tak kuat , bisakah kau
bagi bebanmu itu pada hyungmu ini ? Jangan sampai kau terjatuh "
Mendengar kata-kata itu
seketika mataku menjadi panas . Aku tahu kenapa Tuhan membuat
orang-orang yg tak memiliki materi itu bisa tetap bahagia , yaitu disaat
orang-orang tersebut memiliki seseorang yg bisa diajak menanggung beban
bersama-sama . Seperti aku yg memiliki Jonghyun Hyung.
Ting
Tong
Suara bell terdengar sangat nyaring tanpa jeda beberapa kali.
Aku sangat khawatir jika
yg datang itu adalah Jinki , jika memang ya , mungkin aku tak akan bisa
pergi hari ini , sementara perjanjianku dengan komisaris Lee adalah
hari ini aku harus pergi.
Sebelum aku pergi Jonghyun hyung sudah membuka pintu dan masuklah
Seseorang dari sana .
"Bum ... ?!"
Seseorang yg datang itu adalah Minho .
Syukurlah itu bukan Jinki ataupun Tuan Lee.
Sekarang kami duduk berdua di teras belakang rumahku.
Tatapan Minho begitu lekat padaku , namun aku sendiri tidak terfokus padanya karena saat ini fikiranku sangat kacau.
"Apa kau akan pergi begitu saja meninggalkan Jinki ?"
Pertanyaan Minho itu sedikitnya membuatku kelimpungan. Ia memang tipe orang yg bisa menakhlukan lawan bicaranya dalam sekejap
"Ne.."
Hanya itu yg bisa katakan sementara ini.
"Wae ? Bukankah dulu kau
mati-matian ingin bersamanya huh ? Kau lebih memilih dia daripada aku ,
dan sekarang kau mau meninggalkannya , kepribadian macam apa ini
?!!!!!"
Ku tatap mata Minho kini
berubah memerah , api emosi terlihat jelas disana , dan aku hanya bisa
terdiam dengan kepala semakin berdenyut.
"Apa kau fikir aku dan
Jinki adalah mainanmu huh ? Sekarang aku sudah bisa menerima kalau kau
bukan untukku karena ..... karena ada Lee Taemin disisiku . Tetapi
bagaimana dengan Jinki huh ? Dia tidak memiliki siapapun disisinya .
Lalu bagaimana ia akan bertahan huh ? Apa kau setega itu padanya ?"
Sederet pertanyaan Minho itu membuat hatiku serasa di tusuk-tusuk .
Sangat sakit sampai nafas ini tercekat , apalagi ketika mengingat betapa rapuhnya Jinki .
Namun nyawanya dan nyawa hyung sangatlah berarti bagiku.
Aku harus kuat menghadapi semua ini.
"Maaf Minho ... aku harus tetap pergi . Dan tolong jangan cari tahu tentang keberadaanku nanti ."
Akhirnya aku putuskan
untuk pergi meninggalkan Minho yg kini masih duduk membisu , aku tahu ia
tengah menatapku kebingungan sekarang . Namun apapun yg terjadi aku
harus tetap pergi.
"Bukan aku yg akan mencarimu bum , tetapi aku yakin Jinkilah yg akan mati-matian mencarimu "
" kalau begitu aku akan pergi ke tempat yg tak akan pernah ia ketahui ."
"Ia akan tetap
menemukanmu , meskipun kau pergi ke ujung dunia sekalipun. Aku sangat
tahu Lee Jinki . Ia pasti akan melakukan apapun demi mendapatkan
keinginanmu. Jadi ku peringatkan, sebaiknya kau menyerah saja dan jangan
pernah lari darinya"
Perkataan Minho itu sepenuhnya mengingat tentang sifat Jinki . Ia memang benar , kalau Jinki memang tipe orang seperti itu.
********
Author POV
Jonghyun dan Kibum duduk bersama di sebuah bangku tunggu di stasiun kereta.
Beberapa kereta datang lalu berhenti , termasuk kereta yg ada di hadapan Kibum dan Jonghyun saat ini.
Kibum menatap kereta itu dengan tatapan kosong.
Fikirannya entah ada dimana sekarang , terlalu banyak yg ia fikirkan sehingga membuatnya bingung.
"Apa kau yakin akan meninggalkan Seoul ? Aku hanya takut kalau kau akan menyesal nantinya."
Pertanyaan Jonghyun itu hanya mendapat anggukan dari Kibum.
"Kibum-ahh ,ceritakan
padaku apa yg terjadi ? Aku tahu ada banyak hal yg kau fikirkan sekarang
. Apakah ada yg melakukan sesuatu sampai kau berani meninggalkan Jinki ?
"
Kibum mendelik kearah Jonghyun .
membuat lidahnya kelu untuk sekedar membuat kebohongan.
"Aku hanya tidak ingin membuatnya menderita di kemudian hari . Jika aku tetap bersamanya itu akan membahayakan hidupnya "
Jonghyun mengerutkan dahinya kebingungan.
"Yg pasti , aku sudah melakukan apa yg bisa ku lakukan , yaitu melindungi orang-orang yg ku cintai dengan cara seperti ini"
Lanjut Kibum.
"Siapa yg ingin kau lindungi ? Lindungi dari apa ?"
Suara itu berasal dari arah belakang Kibum dan Jonghyun , nampak Jinki tengah berjalan kearah Kibum dengan tatapan datarnya.
Sementara Kibum kini diam membatu , tak bisa segera menjawab apa-apa .
Akan sangat bahaya jika Jinki menemukan fakta kalau dirinya masih sangat mencintai Jinki.
Beberapa detik mereka beradu pandang .
"Siapa yg ingin kau lindungi ? Kenapa kau tidak menjawabku ?"
Kibum menarik nafasnya dan mulai menata perkataannya.
"Hyung .... aku hanya ingin melindunginya. "
Jinki terkekeh pahit mendengar penjelasan Kibum .
"Jelas sekali tadi aku
dengar kau ingin melindungiku , kenapa harus berbohong huh ? Apakah AKU
ORANG YG PANTAS KAU BOHONGI ?!!!!!"
Dalam sekejap mereka
berdua menjadi pusat perhatian setiap orang yg berlalu lalang. Wajah
Jinki memerah padam , ia sungguh tak mengerti dengan apa yg dilakukan
Kibum sekarang .
"Kau berniat
meninggalkanku sementara kau sangat mencintaiku . Apa maksud ini semua
huh ? Siapa yg membuatmu jadi konyol seperti ini ? Katakan !!!"
Kibum menghela nafas dan mati-matian menahan air matanya yg hampir jatuh.
"Apapun yg kau katakan ,
itu tidak akan merubah keputusanku . Kau hanya bisa menjadi mimipi
untukku , dan untungnya aku bisa menyadari itu dengan cepat . Ne ... aku
ingin melupakanmu.. aku tidak ingin mencintaimu lagi , karena ..,,,, "
Kalimat Kibum berhenti
sampai disitu . Sekarang ia berbalik arah membelakangi Jinki . Tak ingin
menatap wajah Jinki lagi demi menyembunyikan segala kenyataan yg
mungkin kapan saja bisa terungkap lewat mulutnya.
"Kajja .... ini sudah seharusnya kita pergi hyung !!!"
Ungkap Kibum menarik kopernya dan meraih tangan Jonghyun.
"Sekali kau melangkah .... maka kau.... kau tak akan bisa kembali lagi padaku . Araseo !!!?"
Kibum memejamkan matanya lekat-lekat , menahan segala hal yg ingin ia katakan pada Jinki saat ini .
Lututnya terasa lemas , pertahannya seperti akan runtuh disaat jinki memperingatkannya.
Apakah Kibum bisa
menahan semua rasa sakitnya , ataukah ia akan kembali pada Jinki dan
memeluknya erat ,sebab ia benar-benar tak bisa mendengar semua yg Jinki
katakan .
Sementara Jonghyun hanya seperti orang ling lung yg tak mengerti apapun.
Namun ia bukan tak
mengerti , melihat Kibum berlinang air mata ,ia semakin yakin kalau
adiknya itu tidak akan pernah menyianyiakan orang yg ia cintai jika
tidak di landasi alasan yg kuat.
Lebih baik Jonghyun
sekarang mengikuti apa kemauan Kibum , yaitu tetap berjalan meski
seseorag di belakang mereka tengah menunggu dengan harap-harap cemas
dilengkapi dada yg kembang kempis.
Akan tetapi bagaimana dengan nasib hubungannya dengan Kim Subin ?
Jonghyun masih harus memikirkan hal itu , sebab kehidupan pribadi pun cukup penting baginya.
Ketika menerawang kalau
antara dirinya dan Subin tak ada masalah yg rumit ,Jonghyun sedikit
tenang , setidaknya ia bisa menelpon Subin ketika sampai di tempat
tinggal yg barunya bersama Kibum. Fikirnya.
Kim Kibum dan Jonghyun
akhirnya berbaur di dalam keramaian para calon penumpang kereta api yg
akan segera berangkat . Semakin lama semakin mengabur dari penglihatan
Jinki.
Tangan pria bermantel
kulit itu mengepal kuat , menyalurkan setiap emosi dan kesedihannya
dalam sebuah kepalan . Tentu itu tidak cukup baginya.
Sekarang ia meneteskan air matanya agar setidaknya ia bisa melupakan semua yg dikatakan Kibum padanya barusan.
Andai ia memiliki
kekuatan telekinetis yg mampu melumpuhkan ingatannya dalam sekejap dan
beberapa menit saja , mungkin ia sudah menggunakannya .
Kenyataannya ia hanya manusia biasa yg hanya bisa menangis seperti pria bodoh yg di tinggalkan kekasihnya.
Sekarang ia benar-benar
rindu dimana ia menjadi patung ataupun boneka ayahnya seperti dulu .
Dimana ia tak bisa merasakan apapun termasuk perasaan sakit karena putus
cinta.
Ia tak bisa memanggil nama Kim Kibum lagi meski nama itu menari-nari di dalam mulutnya .
Ancamannya tadi itulah
penyebabnya , meaki tak menghasilkan apapun , namun ia masih harus
mempertahankan sedikit harga dirinya demi ancaman tersebut .
Kesal kenapa ia
buru-buru mengtakan ancaman seperti tadi pada Kibum . Memang siapa
dirinya berani mengatakan hal itu ? Kecuali ia benar-benar bisa
mengatasi beban fikirannya tanpa menangis.
*****
Di dalam kereta , Kibum dan Jonghyun duduk di deretan bangku paling ujung sambil di kuasai dalam keheningan.
Mereka berkutat dengan
isi kepala mereka masing-masing tanpa menggubris polusi suara yg terjadi
dalam kereta . Hari ini sangat tumben kereta menjadi penuh sesak ,
beruntung mereka duduk di ujung dan bisa menikmati pemandangan di luar
jendela .
Namun bukan itulah yg terpenting sekarang.
Drrrttt
Drrrrttt
Ponsel Kibum bergetar , menayangkan sebuah pesan dari email terisi oleh satu user yg masuk .
Kibum mengusap air
matanya dan berusaha untuk tegar sambil membuka pesan email yg masuk,
meski ia tak bernafsu untuk itu , tapi iti lebih baik di banding hanya
melamun memikirkan perpisahannha dan Jinki.
Semenit kemudian setelah
ia selesai membaca , itupun ia baca berulang kali sampai ia yakin kalau
sekarang ia harus membelalakan matanya yg sembab.
** from . Dr. Kim yuri .
Hasil general check up Jinki Lee.
Nama : Jinki Lee .
Usia : 27 tahun
General Check : Positif mengidap Sirosis
Notice : Terbilang dari hasil pemeriksaan 27 agustus 2016 , Lee Jinki-ssi melakukan beberapa check up .
Riwayat kesehatan :
pasien pernah megalami banyak pendarahan di beberapa organ dalam
tubuhnya pada kecelakaan 3 tahun lalu . patah tulang , 2 kali koma , dan
Sirosis .
Metode pengobatan : Rawat intensif di rumah sakit , dan melakukan semua anjuran dokter.
Tingkat keberhasilan : 30% untuk proses penyembuhan ( proses transplantasi hati ) .
Tingkat keseriusan : Telah mencapai stadium 2 menengah. **
Tangannya menggenggam erat ponsel di tangannya .
Bibirnya bergetar hebat setelah ia yakin kalau tulisan dalam email tersebut tida salah.
Setelah Jinki mengalami
koma selama tiga hari itu Kibum memang meminta dokter Yuri untuk
mengirim hasil cek kesehatan Jinki melalui emailnya , karena ia fikir
itu adalah bagian dari tugasnya sebagai sekretaris sekaligus asisten
Jinki.
Dan keputusannya beberapa minggu lalu itu sekarang berhasil membuatnya bertambah kacau.
Namun ia masih belum
bisa mempercayai isi pesan tersebut . Ia segera menekan nomor kontak
dokter yuri dan menelponnya , sementara itu Jonghyun kini mengandah
bertanya.
"Bum ... Waeyeo ??? "
"Yeobseo ... Dokter kim ? Ini aku Kim Kibum , bisakah kau jelaskan isi email yg kau kirim padaku barusan?"
** Dokter Kim :
Aku telah melakukan pemeriksaan tersebut selama berulang kali , dan
ternyata hasilnya tetap seperti itu . Presdir Lee harus menjalani
perawatan . Aku memang bukan dokter pribadinya , namun aku menghubungi
dokter Yoon Tae joo yg selama ini menjadi dokter pribadinya . Dan
akhirnya mendapatkan semua catatan kesehatannya selama 3 tahun terakhir
ini . Tadinya aku berniat mengirimkan hasil check up ini pada Presdir
Lee langsung , namun sampai sekarang aku tidak bisa menghubunginya .
Dokter Yoon pun masih di luar negri, dan sulit di hubungi , namun
setelah ku fikir lagi lebih baik aku mengirimnya padamu dulu , karena
kau adalah asisten pribadinya. **
"Apakah dia akan mati ?"
Pertanyaan Kibum itu membuat Jonghyun semakin penasaran tentang apa yg sebenarnya Kibum bicarakan dan dengan siapa Kibum bicara.
** Dokter Kim :
sejujurnya presdir Lee bisa saja sembuh , namun untuk melakukan operasi
kami harus mempertimbangkan berapa persen tingkat keberhasilannya , dan
kami pun harus meminta izin pada presdir sendiri . Tetapi aku hanya bisa
menyarankan agar ia segera melakukan pengobatan , karena jika tidak
.... nyawanya bisa terancam , ia hanya punya waktu sampai 6 bulan ini**
Jemari Kibum bergetar lalu menjatuhkan ponselnya .
Konfirmasi tersebut bukanlah hal yg ingin di dengar olehnya.
Kenapa di saat ia menghadapi beban dalam batin dan fikirannya , kini muncul masalah yg lebih berat lagi .
Kini Kibum seperti tengah berjalan di sebuah sungai yg di pinggirannya terdapat jurang yg curam .
Jika salah bergerak maka ia akan jatuh dan tenggelam .
Air matanya kembali menetes seiring beberapa bayangan melesat di benaknya.
Suara bising mesin kereta yg berjalan, di dominasi angin di luar sana seolah menjadi dengingan yg luar biasa di telinga Kibum.
Pandangannya menjadi kabur , semakin lama semakin kabur . Dan kemudian ia pejamkan matanya beberapa saat.
****
Kibum POV
Aku membuka mataku perlahan , tubuhku terasa nyaman , dan begitu hangat .
Ketika ku sadari , di sebelahku ada seseorang yg semula ku yakini adalah Jonghyun hyung , namun nyatanya bukan.
Dia adalah si pria bermata sabit yg barusan saja ku tangisi.
Ia tersenyum sangat manis padaku .
Entah apa yg ku fikirkan , Sekarang aku membalasnya dengan ramah.
Akankah ia ikut pergi denganku sekarang ini ?
"Kajja !!! "
Katanya berdiri lalu menjulurkan tangannya padaku , memintaku untuk mengikutinya.
Ku sambut tangan
hangatnya dan kami berlari menuruni kereta , eskalator , dan terus
berlari sampai akhirnya kami tiba di sebuah padang rumput yg luas .
Padang rumput yg tak ku kenali dimana letaknya dalam peta.
Dimana ini ???
Dan kenapa kami kesini ?
Molla....
Aku tak perduli ....
Biarlah kami tetap berlari seperti ini , jangan pernah berhenti .
Mungkin kami akan menjadi pengecut karena telah lari dari masalah hidup kami.
Namun apalah arti dari semua itu sekarang ?
Sekarang kamj hanya
ingin bersama , menikmati udara dingin bersama , memandang butiran salju
yg makin lama makin menebal di sekeliling kami.
Kami akan berlari sejauh mungkin sampai orang-orang tak menemukan kami lagi.
"Hosh hosh hosh ....
uhuk uhuk ... chakkeumman ... nafasku habis ... " kataku kelelahan .
Namun meski sampai nafas ini habis , padang rumput ini tetap tak bisa ku
lalui .
Sangat luas seperti air sungai yg mengalir tanpa habisnya.
"Ahahaha ... kau lelah ? Kajja !!"
Ia berjongkok dan menyuruhku untuk naik ke punggungnya .
"Mwo ? Anniaa ... aku masih bisa berjalan . Sebaiknya kita istirahat dulu "
Saranku , kemudian ku jatuhkan punggungku di atas rumput , merasakan butiran salju yg turun memenuhi sekujur tubuhku.
Ku lihat ia pun berbaring di sebelahku , menggenggam tanganku erat dan tersenyum sumringah .
"Kemana kita akan lari ? Apakah kau sudah tahu ?"
Tanyaku , dengan penuh kepolosan Jinkiku hanya tersenyum semakin lebar lalu menggelengkan kepalanya.
"Aishh jinja ... kau mengajakku berlari tapi tidak tahu mau kemana , begitu maksudmu ?"
Ku omeli dia sambil mengerucutkan bibirku . Tetapi entah kenapa hati ini terasa sangat lega .
"Ouughh ... "
Tiba-tiba ia menindihiku dan kemudian ia putar posisiku menjadi diatasnya.
"Yakk .. apa yg kau lakukan huh ? Bagaimana kalau ada yg lihat ?? "
Tak ada yg bisa ku lakukan selain mengkoyak tubuhku dalam pelukannya.
"Kau ingat bukan ? Ini
adalah posisi saat kita pertama bertemu . Auuhhh kau menindihiku dan
menebarkan pesonamu itu sampai aku hampir lupa caranya mengedipkan mata
... aaahhh jinja ... kau sangat imut waktu itu bum,"
Ku rasakan wajahku memanas , sepertinya salju yg turun menimpa tubuhku ini malah terasa panas sekarang.
"Mwo ? Apa kau sedang menggodaku ? "
Ia menggeleng singkat dan tersenyum nakal.
"Mari kita lalui hari-hari kita dengan cara seperti ini , penuh gairah. "
Author POV
Jinki memutar posisinya kembali menindihi Kibum , menautkan bibirnya pada bibir lembut Kibum yg dingin.
Melumat tiap jengkal bibir Kibumnya penuh gairah.
Kibum pun menanggapi setiap kecupan Jinki tak kalah agresif .
Mereka bergumul di bawah salju yg dingin .
Bergantian saling mengulum bibir dalam lengguhan yg berapi-api.
Cukup lama mereka bercumbu , sampai akhirnya Kibum melepaskan kecupan tersebut lalu memeluk tubuh Jinki erat.
"Lihatlah .... apakah kita akanmenghabuskan hari kita dengan cara seperti ini,? saljunya terus turun memenuhi tubuh kita ahaha"
Tawa ringan Jinki sambil tangan kirinya melambai keatas langit , mencoba mengambil butiran salju.
"Kau tidak akan mati kan ?"
Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Kibum tanpa permisi.
Lawan bicaranya hanya tersenyum seperti menangkap apa yg Kibum maksud.
"Tentu ... aku tidak akan mati sebelum usiaku 100 tahun .. wae ? Kau tak percaya ?"
Kibum mengangkat kepalanya dan berusaha menatap wajah Jinki dari dekat.
"Jeongmal ? Entah kenapa
aku merasa sedih jika sekarang kau akan meninggalkanku sendirian . Aku
memang bodoh . Aku sudah mengatakan kata-kata bodohku kemarin . Faktanya
aku memang mencintaimu Lee Jinki . Jadi maafkan aku dan jangan
tinggalkan aku sendirian , maka aku pun takkan meninggalkanmu "
"Auhhh jinja ... apakah kau sedang mengarang novel ? Kapan kau mengatakan kata-kata bodoh ?? Dan kapan kau meninggalkanku ?
Heol ....Kau selalu
mencintaiku dan menuruti semua yg ku inginkan , jadi kesimpulannya kau
adalah kekasih terbaik yg ada di korea , dan hanya milikku , araseo huh
?"
Lee Jinki kini bicara seolah kalau ia tak mengetahui tentang apapun yg terjadi kemarin .
Ingatannya seperti terpusat hanya pada segala hal menyenangkan yg terjadi selama ia bersama dengan Kibum.
Senyuman polosnya selalu menjadi obat kesedihan bagi Kibum .
Kini mereka bisa tidur dan memejamkan mata dengan perasaan yg amat bahagia .
Tanpa memikirkan hal lain lagi selain menikmati pelukan hangat yg diharapkan takkan pernah terlepas lagi.
.
*****
Pukul 12 malam waktu setempat .
Detak jarum jam di sebuah koridor terdengar amat mencekam.
Trakk
Trakk
Trakkk
Suara hebtakan sepatu itu terdengar santai namun berulang di setiap detiknya.
Lee Taemin , pemuda 21
tahun itu kini menggenggam erat sebuah kalung salib di dadanya sambil
memejankan matanya lekat-lekat , berdoa sungguh-sungguh demi sesuatu yg
ada dalam doanya.
"Duduklah dulu Taemin-ssi , kau harus istirahat "
Ujar suara Bass Minho menyadarkannya.
"Tidak ... aku tak bisa duduk dalam keadaan seperti ini hyung , bisakah kau berhenti menyuruhku istirahat ?"
Lirih Taemin merengek , meminta agar Minho mengerti posisinya sekarang.
Mendengar umpatan ringan itu Minho akhirnya berdiri mendekati Taemin .
Membelai kedua bahu mungil pemuda yg baru saja mengisi hatinya itu dengan lembut.
"Tapi tidak dengan cara
seperti ini , kau tetap harus istirahat , setidaknya makanlah sesuatu ..
lihatlah wajahmu sekarang huh ?"
Minho mengomentari wajah Taemin yg pucat sekaligus kelingan mata yg mulai terlihat di kelopak mata Taeminnya.
"Bagaimana aku bisa
istirahat dan makan sementara Jinki hyung berada di dalam sana huh ? Kau
lihat sendiri bukan ? Ia begitu kesakitan sampai melenyapkan
kesadarannya. Kau pun tahu kalau ia memiliki fisik yg kuat dan takkan
tumbang jika ia masih bisa menahan rasa sakitnya . Bahkan ia belum sadar
sekarang , apakah aku harus istirahat sekarang ? Pantaskah aku
istirahat sekarang huh ?!!!!!!"
Setelah Taemin memperjelas pemikirannya , Minho tak berani lagi untuk berucap .
Sejujurnya Minho amat mengerti dengan apa yg di rasakan oleh Taemin.
Bahkan sekarang ingin sekali ia memeluk tubuh mungil Taemin dan memberikan rasa hangat untuknya.
"Maafkan aku ... aku hanya tidak ingin kau pun jatuh sakit. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja . "
Taemin menatap wajah Minho yg di tundukkan.
Dalam sekejap rasa penyesalan menghampirinya.
"Mianh hyung .... aku
.... hiks ... aku hanya merasa takut ... aku takut kalau Jinki hyung
takkan bangun lagi , karena ... hanya ia satu-satunya keluarga yg ku
miliki "
Minho segera memeluk Taemin yg kini menangis tersedu-sedu.
Hatinya ikut sakit melihat pujaan hatinya begitu terluka saat ini.
Takdir memang seringnya terlihat kejam .
Namun itulah kehidupan , takkan terjadi jika tanpa campur tangan sesuatu yg di sebut takdir.
Tanpa di duga , Jinki kini tengah berada dalam masa kritisnya di dalam ruang UGD .
Bersama para dokter ,kini Jinki berjuang untuk setidaknya mendapatkan sedikit kesempatam dari Tuhan.
Penyakitnya semakin menggerogotinya tanpa ampun .
Sejak kapan ia merasakan sakit?
Sepertinya itu bukan pertanyaan yg penting lagi .
Yg terpenting sekarang adalah mengharapkan keajaiban dari Tuhan.
Dan semoga saja janji yg
ia ucapkan dalam mimpi Kibum itu menjadi kenyataan. Mimpi yg di yakini
Kibum sebagai kenyataan manis di bawah hujan salju yg indah.
**Mimpi** adalah sebuah *Jalan Megah yg indah* sebuah siatuasi ketidaksadaran , tercipta dari sebuah keinginan terlarang yg kalian miliki , namun tak berani kalian akui.
Anggaplah mimpi itu sebagai keinginan Kim Kibum yg tak berani ia utarakan.
Lalu apakah Lee Jinki pun bermimpi tentang hal yg sama?