Minggu, 04 September 2016

Diterbitkan 5464 Kata

HOTELIER page 11


 Tentang pengorbanan dan Mimpiku


Author POV

Ini sudah pukul 11 malam waktu setempat.
Tapi kendaraan di jalan masih saja ramai berlalu lalang dengan santainya . Memang sangat santai sampai seseorang berjas hitam kelam berjalan tanpa sadar berada dimana ia sekarang.
Ketika menemui sebuah tikungan tajam ,matanya meruncing , ia ingat betul menuju kemana tikungan tersebut.
Anggaplah ia sedang menimbang-nimbang apa yg mesti ia lakukan sekarang.
Minum soju di kedai yg ada di sebrang jalan kah ? Atau melanjutkan perjalanan untuk menuju tempat yg sedari tadi menari-nari di kepalanya .
Sejujurnya ia sudah sangat lelah berjalan selama kurang lebih 2 jam ,belum lagi tubuhnya tak dilegkapi mantel bulu kesayangannya ataupun sebuah payung.
Ia hanya menuju tujuan utamanya, yaitu mencari sosok pemuda berbahu mungil dengan pesona mata kucing yg tak seorang pun memilikinya.
_
_
_
Lee Jinki baru saja melewati tikungan tajam tersebut , merasakan udara malam semakin menusuk dadanya akibat jalanan menanjak.
Dan ketika itu pula ,air dari lagit berjatuhan membasahi sekujur tubuhnya lebih dahsyat lagi.
Semestinya ia membawa mobilnya sejak tadi , dibanding berjalan tanpa arah seperti orang bodoh , kendati tujuanya memang rumah Kim Kibum yg jalannya amat di hafalnya.
Rupanya alam sedang tak bersahabat dengannya, namun pencarian Kim Kibum tetap harus dilakukannya.
Meski ia tak bisa menemukan Kibum di rumahnya , ia harap ada Jonghyun yg bersedia memberikan teh jali hangat untuknya.
Sungguh ia lebih berharap lagi ada Kibum yg bisa mendengarkan segala keluhannya ketika berjalan selama 2 jam tadi demi sebuah penjelasan ,dan setelah itu bertanya tentang apa yg di fikirkan oleh Kibum sekarang.
Meski itu harapan yg tak mungkin , sebab ia telah ditinggalkan .
Apa boleh buat , Lee Jinki bukan pria yg mudah menyerah ,maka dari itu ia tetap berfikir tentang harapannya.


Ting
Tong


Tangannya menekan bell kuat-kuat.
Berdoa semoga ada orang di rumah.
Ia berteduh di balik tembok pagar yg sudah usam dimakan usia, agar setidaknya tubuhnya bisa sedikit terlindungi.
Ia tak boleh sakit , sebab ia masih harus berjuang untuk masa depannya bersama Kim Kibum. Fikirnya.



Ceklekkk


Ketika pintu terbuka ia bisa melihat wajah kuyu dari sosok berkantung mata tebal mengandah bertanya.
"Jinki-ssi .... ? Sedang apa kau disini ? Kajja ... masuklah !!!"
Sergah tuan kantung mata bernama Kim Jonghyun itu segera menariknya untuk masuk.
Beruntung Jonghyun langsung menyuruhnya masuk tanpa bertanya apapun .
Jinki mengekor di belakang Jonghyun dengan keadaan basah kuyup .
Tak sampai semenit ia mendapatkan handuk dari Jonghyun yg kemudian membimbingnya untuk duduk di meja mungil yg biasa di pakai oleh Kibum dan Jonghyun untuk makan ataupun selebihnya.
Hyung beralis tebal itu memberikan segelas teh jali hangat seperti harapan Jinki.
"Gomawo Jonghyun-ssi"
Segera saja Jinki menyambar teh panas itu .

"Hati-hati , itu masih panas"
Ujar Jonghyun mengingatkan ,setelahnya benar saja Jinki merasakan mulut dan lidahnya seperti melepuh.
Ia bahkan hanya tersenyum menyadari tindakan kurang sabarnya.


"Apa yg kau lakukan malam begini ? Bukankah di luar hujan ? Apa kau tak bawa mobil? "
Tanya Jonghyun seraya menuangkan lagi teh jali di cangkir Jinki yg sudah kosong.
Jinki tak berniat menjawab pertanyaan Jonghyun , ia lebih memilih untuk langsung ke pokok permasalahan.


"Apa Kibum tidak ada disini,?"
Tanya Jinki sambil meniup gelasnya.

"Anni ... bukankah dia bersamamu ? Ku kira ia akan tinggal di rumahmu lebih lama?"


"Inginku juga begitu . Tapi ternyata ia malah meninggalkanku . Mungkin ini terlihat sedikit memalukan untukku , tapi baru saja 2 jam yg lalu ia menolak lamaranku "
Penjelasan itu membuat mata Jonghyun hampir melompat .


"Menolak ? Lalu apa alasannya ? "


"Entah . Dia bilang sudah tak mencintaiku lagi , apa menurutmu itu masuk akal ?"
Pertanyaan Jinki itu membuat Jonghyun teringat pada sosok adiknya yg begitu polos , dan selalu membicarakan kebahagiaannya bersama Jinki.
Sedetik kemudian ia menggeleng cepat , menyetujui ketidak masuk akalan keputusan Kibum.


"Aku tahu betul apa yg dirasakannya , jadi percayalah kalau itu bohong"
Keyakinan Jonghyun itu sudah pasti bisa di pertanggung jawabkan.



Trakkk


Tiba-tiba saja suara yg berasal dari pintu terbuka menyita perhatian mereka berdua.
Nampaklah Kibum dengan wajah kuyu, tubuh basah kuyup dan mata yg sembab memasuki area tempat Jinki dan Jonghyun berada.
"Bum ?!!!" Seruan Jonghyun mengandah bertanya. Sekilas Kibum melirik ke arah Jinki lalu segera pergi dari tempatnya berdiri sekarang.
Kibum masih belum siap bertemu dengan Jinki sekarang , hatinya terlalu lemah dan sakit untuk menanggung segala beban fikirannya. Ditambah beban yg baru saja di terimanya.



1 jam sebelumnya.


Kibum berdiri di hadapan Lee myung jin dengan kaki gemetaran , nafas yg kembang kempis dan emosi yg tak terlampiaskan.



Plukkkk



Lee myung jin melemparkan sebuah amplop putih ke hadapan Kibum. Senyuman penuh arti menghiasi wajahnya.
"Karena kau tidak mau menyerahkan proyek Gold Diamond padaku , maka ini adalah 100 juta dolar untukmu . Dan pergilah dari Korea . Ku rasa aku pun tak mungkin membiarkanmu berada terus di Korea dan mengganggu anakku. "
Kibum menatap amplop yg ada di aspal tersebut ,
lalu mengambilnya.




Sreekkk
Sreekkk
Sreeekkk




Mata Myung Jin membulat terkejut melihat tangan Kibum kini merobek cek 100 juta dolar itu dengan entengnya.
Tetapi Lee myung jin adalah manusia yg memiliki seribu wajah , ia kendalikan keterkejutannya dan kemudian tersenyum.
"Ahahahahaha..... ahahahahaaaa.... kau merobeknya ? Sepertinya kau sangat keras kepala...Dasar bocah tolol "
Celetuknya .
"Mungkin aku memang tolol . Tapi setidaknya aku masih memiliki hati nurani . Aku tak mungkin menukar orang yg ku cintai dan ku sayangi demi uang . Aku bukan orang sepertimu yg dengan mudah menukar anaknya demi uang ,lalu membiarkan anaknya menderita selamanya. Maaf aku masih memiliki hati , karena aku adalah manusia "
Seketika tawa myung jin sirna dari wajahnya . Sedikitnya ia terangsang oleh ucapan Kibum itu . Tentang dirinya yg tak berperasaan , itu bukanlah sesuatu yg terjadi sejak ia lahir , karena manusia di ciptakan dengan akal dan fikiran yg bereaksi melalui hati lalu perbuatan.
Dahulu Lee myung Jin adalah orang yg sempurna dimata orang banyak .
Dicintai banyak orang di sekelilingnya , dan oleh seorang wanita yg sudah sejak lama bersamanya.
suatu ketika ia mendapati bahwa kenyataan begitu menyakitkan . Disaat ia sengaja di tinggalkan oleh orang tua yg begitu di hormati dan di cintainya.
Ia di jual ke sebuah komplotan gengster dan menjadi budak disana. Budak dari segala kegiatan , mulai dari budak pesuruh sampai budak sex para komplotan gengster yg menginginkannya.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang gadis bernama Shin Ok jung .
Gadis muda yg begitu cantik dan mulai mewarnai hidup Myung jin dari kegelapan . Gadis itu berhasil membawa myung jin dari keterpurukan menuju masa depan yg cemerlang. Dari tahun ke tahun usaha motel kecil yg digelutinya semakin maju hingga setaraf dengan usaha kelas menengah.
Akan tetapi ketika suatu saat Ok Jung mengetahui segala cerita di balik kesuksesan Myung Jin , Gadis itu kecewa pada myung Jin yg merebut lahan panti asuhan tempat Ok jung mengasuh anak-anak yatim piatu untuk di jadikan sebuah gedung hotel yg saat ini menjadi Diamond hotel .
Tempat yg merupakan rumah bagi Ok Jung sedari ia kecil itu di rampas tanpa ampun oleh orang yg ia cintai , membuat gadis itu kecewa . Disanalah Gadis yg merupakan cinta sejati Lee myung jin meninggalkannya selamanya, menyisakan api dendam yg tak pernah padam kepada siapapun , sampai akhirnya kini terlampiaskan melalui anak-anak kandunnya sendiri.




*****
Myung Jin menatap wajah pemuda kuyu namun dengan tatapan berani di hadapannya.
"Kau melakukan semua ini karena cinta ? Ahahaha , kau ini lucu sekali. Justru aku malah semakin yakin kalau jumlah 100 juta dolar adalah jumlah yg kecil bagimu . Kau menginginkan Diamond hotel bukan ? Cintamu pada anakku itu palsu ."
Kibum mengerutkan dahinya .
"Tuan. Kau adalah orang tercerdas yg pernah ku temui , aku yakin kau bisa melihat semua ketulusan dari mataku . Dan aku sendiri melihat api kekecewaan dalam matamu . Entah apa yg terjadi padamu dimasa lalu , dan siapa yg telah menyebabkan dirimu kecewa sampai kau menjadi monster seperti ini . Tetapi aku hanya ingin mengatakan , sejauh apapun kau memupuk perasaan dendam dalam hatimu , pada akhirnya kehancuranlah yg akan kau dapatkan "
"KAU !!!!........."
"Dan sejauh apapun kau menghindari rasa kecewamu di dalam kegelapan , maka kau sendiri akan tenggelam di dalamnya jika kau tak menghadapinya dengan berani . Seharusnya kau menghadapi dan melaluinya dengan tegar jika kau memang benar-benar orang yg kuat . Lalu setelahnya kau memulai kembali kehidupan barumu dengan indah tuan. Bukannya membalaskan semua kekecewaanmu melalui Jinki ataupun Taemin . Karena Lee Jinki dan Taemin tidak bersalah . Terutama Jinki , ia adalah makhluk polos yg telah kau hancurkan hidupnya . "
Rentetan penjelasan dari Kibum itu membuat myung jin terpaku . Pemuda yg myung Jin yakini sebagai pemuda ingusan dan menjijikan itu seperti mengetahui apa yg terjadi padanya di masa lalu .
Apa daya Lee Myung jin sekarang ?
Ia hanya melongo menyadari kebenaran atas pemikiran Kibum.
Mungkin ia memang bisa melakukan apapun demi mendapatkan keinginannya . Namun ia tetap tidak akan bisa mengubah kenyataan , kenyataan kalau selama ini dirinya telah membalaskan rasa dendamnya pada anak-anaknya sendiri.
Sekali myung Jin menarik nafas dan berkata.
"Kau terlalu banyak bicara . Sebaiknya kau pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku . "



*******
Sekarang Lee Jinki tengah berdiri di hadapan pintu kamar Kibum .
Menggedor pintu kamar yg telah usam dimakan usia itu dengan kuatnya.


Dug
Dug
Dug



"Kibum-ahh ... tolong buka pintunya ... kau harus menjelaskan dulu padaku apa yg terjadi sampai kau menolakku .Bum-ahh !!! Kim kibum !!! "
Apapun yg dikatakan oleh Jinki , Kibum tetap saja bersikukuh diam .
Duduk telungkup di depan pintu kamarnya sama yg di lakukan Jinki sekarang .
Punggung mereka hanya di batasi selembar pintu kayu .
Merasakan kembali kepedihan bersama-sama .


"Aku akan tetap menunggumu disini bum ... sampai kau keluar dan menjelaskan semuanya . " ujar Jinki kembali dudul bersandar di depan pintu .
Sementara itu orang yg Jinki tunggu,hanya bisa menangis , menangisi tentang kenapa semua ini harus terjadi pada hidupnya.
Manisnya cinta yg baru saja ia rasakan nampak seperti mimpi .
Betapa sulitnya hidup bahagia .
Haruskah Kim Kibum menuntut Tuhan ke pengadilan agar bisa bersikap adil padanya ?
Tentu saja itu bukan tindakan yg rasional .
Entahlah ...
Yg jelas sekarang pemuda penuh penderitaan itu ingin istirahat dan tidur . Agar ia bisa kembali memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menjalani semua masalahnya.
Matanya mulai terpejam dan dalam beberapa menit ia sudah terjaga dalam tidurnya.




*******
Kibum POV
Pagi ini aku telah menyiapkan semua barang-barangku dan hyung , meski tak semuanya , termasuk rumah ini yg tak akan pernah ku jual  .
Meski hati ini tak ingin pergi , namun aku harus tetap pergi.
Tuhan pasti tahu apa yg ku lakukan untuk orang-orang yg ku sayangi .
Aku tak pernah menyesali pertemuanku dengannya . Ya ... dengan Lee Jinki .
Karena bukan ialah penyebab penderitaanku , akan tetapi ayahnya.
Senyumannya masih sangat ku hafal , dan aroma tubuhnya selalu ku cium serasa ia berada di sampingku .
Aku akan pergi meninggalkannya sendirian lagi seperti dulu .
Mungkin butuh waktu setahun dua tahun untukknya melupakanku .
Aku yakin ia akan kembali mendapatkan kebahagiaan yg lain dalam hidupnya , karena setahuku Tuhan tak akan pernah meninggalkan orang sepertinya dan orang seperti aku , yaitu orang yg setidaknya memiliki hati untuk mengorbankan kebahagiaannya dan orang yg tak berdosa seperti Jinki.
Meskipun Tuhan meninggalkannya , maka aku akan meminta pada Tuhan agar menukarkan kebahagiaanku untuknya . Setidaknya itu cukup membuatku tenang .
Masa-masa sulit sekarang ini pasti akan berubah menjadi masalalu di kemudian hari .
Gwenchana.....
Dan masa-masa kehidupan manis kami berdua pasti akan tetap menjadi kenangan yg indah untukku.

"Sebenarnya ada masalah apa sampai kita harus pindah bum?"
Celetuk hyung bertanya .
Sebab ia memang tak mengerti dengan jalan fikiranku sekarang ini .
Aku hanya tersenyum simpul padanya , sejujurnya aku pun bingung harus menjelaskan apa padanya, akan lebih baik jika aku mengatakan padanya kalau aku tak mencintai Jinki lagi .
"Aku rasa hidup di Seoul sangat sulit hyung , kita selalu kekurangan bukan ? Dan lebih mudah hidup di desa seperti saat kita kecil dulu . Orang-orang desa selalu bersedia berbagi makanan dengan kita meski kita tak punya uang , bukankah itu bagus ?"

"Ada apa antara kau dan Jinki,? Bisakah kau memberitahuku ?"
Mendengar ungkapan serius itu aku merasa kalau hyung sungguh-sungguh memperhatikan hubunganku dengan Jinki sekarang.
Tetapi aku tak ingin membuat

"Aku dan dia sudah berakhir hyung . Eummmm jujur saja Jinki itu punya sifat yg buruk , dan dia juga dingin, terlebih ia itu terlalu kaya , kau tahu betul bukan seperti apa orang kaya hyung ? Hehee"
Sebetulnya ini ungkapan terbodoh yg pernah ku ucapkan seumur hidupku.

"Bohong !! Kau fikir aku ini siapa? Aku adalah hyungmu sejak kau lahir , jadi aku tahu saat kau berkata bohong . "
Ya ... aku salah mengatakan itu . Sudah pasti hyung akan mengetahuinya.
Namun aku harus tetap berusaha meyakinkan hyung untuk pergi bersamaku.
"Eummm bisakah sekarang ini kau hanya menuruti apa mauku hyung ? Aku mohon jangan bertanya lagi mengenai hubunganku dan Jinki . Kami sudah berakhir , dan aku menganggap kalau kami tidak berjodoh."
Hyung terdiam ,matanya menerawang kearahku , aku tahu ia berusaha membaca ekspresi wajahku saat ini .
"Ada banyak beban fikiran yg kau pikul bum ... aku tahu itu . Beban yg sangat berat sampai kau harus merelakan kebahagiaanmu . Kau boleh menahan semua beban beratmu itu selagi kau kuat , namun ketika kau tak kuat , bisakah kau bagi bebanmu itu pada hyungmu ini ? Jangan sampai kau terjatuh "
Mendengar kata-kata itu seketika mataku menjadi panas . Aku tahu kenapa Tuhan membuat orang-orang yg tak memiliki materi itu bisa tetap bahagia , yaitu disaat orang-orang tersebut memiliki seseorang yg bisa diajak menanggung beban bersama-sama . Seperti aku yg memiliki Jonghyun Hyung.


Ting
Tong


Suara bell terdengar sangat nyaring tanpa jeda beberapa kali.
Aku sangat khawatir jika yg datang itu adalah Jinki , jika memang ya , mungkin aku tak akan bisa pergi hari ini , sementara perjanjianku dengan komisaris Lee adalah hari ini aku harus pergi.
Sebelum aku pergi Jonghyun hyung sudah membuka pintu dan masuklah
Seseorang dari sana .
"Bum ... ?!"
Seseorang yg datang itu adalah Minho .
Syukurlah itu bukan Jinki ataupun Tuan Lee.
Sekarang kami duduk berdua di teras belakang rumahku.
Tatapan Minho begitu lekat padaku , namun aku sendiri tidak terfokus padanya karena saat ini fikiranku sangat kacau.
"Apa kau akan pergi begitu saja meninggalkan Jinki ?"
Pertanyaan Minho itu sedikitnya membuatku kelimpungan. Ia memang tipe orang yg bisa menakhlukan lawan bicaranya dalam sekejap
"Ne.."
Hanya itu yg bisa katakan sementara ini.

"Wae ? Bukankah dulu kau mati-matian ingin bersamanya huh ? Kau lebih memilih dia daripada aku , dan sekarang kau mau meninggalkannya , kepribadian macam apa ini ?!!!!!"
Ku tatap mata Minho kini berubah memerah , api emosi terlihat jelas disana , dan aku hanya bisa terdiam dengan kepala semakin berdenyut.

"Apa kau fikir aku dan Jinki adalah mainanmu huh ? Sekarang aku sudah bisa menerima kalau kau bukan untukku karena ..... karena ada Lee Taemin disisiku . Tetapi bagaimana dengan Jinki huh ? Dia tidak memiliki siapapun disisinya . Lalu bagaimana ia akan bertahan huh ? Apa kau setega itu padanya ?"
Sederet pertanyaan Minho itu membuat hatiku serasa di tusuk-tusuk .
Sangat sakit sampai nafas ini tercekat , apalagi ketika mengingat betapa rapuhnya Jinki .
Namun nyawanya dan nyawa hyung sangatlah berarti bagiku.
Aku harus kuat menghadapi semua ini.

"Maaf Minho ... aku harus tetap pergi . Dan tolong jangan cari tahu tentang keberadaanku nanti ."
Akhirnya aku putuskan untuk pergi meninggalkan Minho yg kini masih duduk membisu , aku tahu ia tengah menatapku kebingungan sekarang . Namun apapun yg terjadi aku harus tetap pergi.
"Bukan aku yg akan mencarimu bum , tetapi aku yakin Jinkilah yg akan mati-matian mencarimu "
" kalau begitu aku akan pergi ke tempat yg tak akan pernah ia ketahui ."
"Ia akan tetap menemukanmu , meskipun kau pergi ke ujung dunia sekalipun. Aku sangat tahu Lee Jinki . Ia pasti akan melakukan apapun demi mendapatkan keinginanmu. Jadi ku peringatkan, sebaiknya kau menyerah saja dan jangan pernah lari darinya"
Perkataan Minho itu sepenuhnya mengingat tentang sifat Jinki . Ia memang benar , kalau Jinki memang tipe orang seperti itu.




********
Author POV

Jonghyun dan Kibum duduk bersama di sebuah bangku tunggu di stasiun kereta.
Beberapa kereta datang lalu berhenti , termasuk kereta yg ada di hadapan Kibum dan Jonghyun saat ini.
Kibum menatap kereta itu dengan tatapan kosong.
Fikirannya entah ada dimana sekarang , terlalu banyak yg ia fikirkan sehingga membuatnya bingung.
"Apa kau yakin akan meninggalkan Seoul ? Aku hanya takut kalau kau akan menyesal nantinya."
Pertanyaan Jonghyun itu hanya mendapat anggukan dari Kibum.
"Kibum-ahh ,ceritakan padaku apa yg terjadi ? Aku tahu ada banyak hal yg kau fikirkan sekarang . Apakah ada yg melakukan sesuatu sampai kau berani meninggalkan Jinki ? "
Kibum mendelik kearah Jonghyun .
membuat lidahnya kelu untuk sekedar membuat kebohongan.
"Aku hanya tidak ingin membuatnya menderita di kemudian hari . Jika aku tetap bersamanya itu akan membahayakan hidupnya "
Jonghyun mengerutkan dahinya kebingungan.
"Yg pasti , aku sudah melakukan apa yg bisa ku lakukan , yaitu melindungi orang-orang yg ku cintai dengan cara seperti ini"
Lanjut Kibum.


"Siapa yg ingin kau lindungi ? Lindungi dari apa ?"
Suara itu berasal dari arah belakang Kibum dan Jonghyun , nampak Jinki tengah berjalan kearah Kibum dengan tatapan datarnya.
Sementara Kibum kini diam membatu , tak bisa segera menjawab apa-apa .
Akan sangat bahaya jika Jinki menemukan fakta kalau dirinya masih sangat mencintai Jinki.
Beberapa detik mereka beradu pandang .
"Siapa yg ingin kau lindungi ? Kenapa kau tidak menjawabku ?"
Kibum menarik nafasnya dan mulai menata perkataannya.

"Hyung .... aku hanya ingin melindunginya. "
Jinki terkekeh pahit mendengar penjelasan Kibum .


"Jelas sekali tadi aku dengar kau ingin melindungiku , kenapa harus berbohong huh ? Apakah AKU ORANG YG PANTAS KAU BOHONGI ?!!!!!"
Dalam sekejap mereka berdua menjadi pusat perhatian setiap orang yg berlalu lalang. Wajah Jinki memerah padam , ia sungguh tak mengerti dengan apa yg dilakukan Kibum sekarang .
"Kau berniat meninggalkanku sementara kau sangat mencintaiku . Apa maksud ini semua huh ? Siapa yg membuatmu jadi konyol seperti ini ? Katakan !!!"
Kibum menghela nafas dan mati-matian menahan air matanya yg hampir jatuh.
"Apapun yg kau katakan , itu tidak akan merubah keputusanku . Kau hanya bisa menjadi mimipi untukku , dan untungnya aku bisa menyadari itu dengan cepat . Ne ... aku ingin melupakanmu.. aku tidak ingin mencintaimu lagi , karena ..,,,, "
Kalimat Kibum berhenti sampai disitu . Sekarang ia berbalik arah membelakangi Jinki . Tak ingin menatap wajah Jinki lagi demi menyembunyikan segala kenyataan yg mungkin kapan saja bisa terungkap lewat mulutnya.


"Kajja .... ini sudah seharusnya kita pergi hyung !!!"
Ungkap Kibum menarik kopernya dan meraih tangan Jonghyun.

"Sekali kau melangkah .... maka kau.... kau tak akan bisa kembali lagi padaku . Araseo !!!?"
Kibum memejamkan matanya lekat-lekat , menahan segala hal yg ingin ia katakan pada Jinki saat ini .
Lututnya terasa lemas , pertahannya seperti akan runtuh disaat jinki memperingatkannya.
Apakah Kibum bisa menahan semua rasa sakitnya , ataukah ia akan kembali pada Jinki dan memeluknya erat ,sebab ia benar-benar tak bisa mendengar semua yg Jinki katakan .
Sementara Jonghyun hanya seperti orang ling lung yg tak mengerti apapun.
Namun ia bukan tak mengerti , melihat Kibum berlinang air mata ,ia semakin yakin kalau adiknya itu tidak akan pernah menyianyiakan orang yg ia cintai jika tidak di landasi alasan yg kuat.
Lebih baik Jonghyun sekarang mengikuti apa kemauan Kibum , yaitu tetap berjalan meski seseorag di belakang mereka tengah menunggu dengan harap-harap cemas dilengkapi dada yg kembang kempis.
Akan tetapi bagaimana dengan nasib hubungannya dengan Kim Subin ?
Jonghyun masih harus memikirkan hal itu , sebab kehidupan pribadi pun cukup penting baginya.
Ketika menerawang kalau antara dirinya dan Subin tak ada masalah yg rumit ,Jonghyun sedikit tenang , setidaknya ia bisa menelpon Subin ketika sampai di tempat tinggal yg barunya bersama Kibum. Fikirnya.
Kim Kibum dan Jonghyun akhirnya berbaur di dalam keramaian para calon penumpang kereta api yg akan segera berangkat . Semakin lama semakin mengabur dari penglihatan Jinki.
Tangan pria bermantel kulit itu mengepal kuat , menyalurkan setiap emosi dan kesedihannya dalam sebuah kepalan . Tentu itu tidak cukup baginya.
Sekarang ia meneteskan air matanya agar setidaknya ia bisa melupakan semua yg dikatakan Kibum padanya barusan.
Andai ia memiliki kekuatan telekinetis yg mampu melumpuhkan ingatannya dalam sekejap dan beberapa menit saja , mungkin ia sudah menggunakannya .
Kenyataannya ia hanya manusia biasa yg hanya bisa menangis seperti pria bodoh yg di tinggalkan kekasihnya.
Sekarang ia benar-benar rindu dimana ia menjadi patung ataupun boneka ayahnya seperti dulu . Dimana ia tak bisa merasakan apapun termasuk perasaan sakit karena putus cinta.
Ia tak bisa memanggil nama Kim Kibum lagi meski nama itu menari-nari di dalam mulutnya .
Ancamannya tadi itulah penyebabnya , meaki tak menghasilkan apapun , namun ia masih harus mempertahankan sedikit harga dirinya demi ancaman tersebut .
Kesal kenapa ia buru-buru mengtakan ancaman seperti tadi pada Kibum . Memang siapa dirinya berani mengatakan hal itu ? Kecuali ia benar-benar bisa mengatasi beban fikirannya tanpa menangis.



*****
Di dalam kereta , Kibum dan Jonghyun duduk di deretan bangku paling ujung sambil di kuasai dalam keheningan.
Mereka berkutat dengan isi kepala mereka masing-masing tanpa menggubris polusi suara yg terjadi dalam kereta . Hari ini sangat tumben kereta menjadi penuh sesak , beruntung mereka duduk di ujung dan bisa menikmati pemandangan di luar jendela .
Namun bukan itulah yg terpenting sekarang.



Drrrttt
Drrrrttt



Ponsel Kibum bergetar , menayangkan sebuah pesan dari email terisi oleh satu user yg masuk .
Kibum mengusap air matanya dan berusaha untuk tegar sambil membuka pesan email yg masuk, meski ia tak bernafsu untuk itu , tapi iti lebih baik di banding hanya melamun memikirkan perpisahannha dan Jinki.
Semenit kemudian setelah ia selesai membaca , itupun ia baca berulang kali sampai ia yakin kalau sekarang ia harus membelalakan matanya yg sembab.


** from . Dr. Kim yuri .
Hasil general check up  Jinki Lee.

Nama : Jinki Lee .
Usia : 27 tahun
General Check : Positif mengidap Sirosis
Notice : Terbilang dari hasil pemeriksaan 27 agustus 2016 , Lee Jinki-ssi melakukan beberapa check up .
Riwayat kesehatan : pasien pernah megalami banyak pendarahan di beberapa organ dalam tubuhnya pada kecelakaan 3 tahun lalu . patah tulang , 2 kali koma , dan Sirosis .
Metode pengobatan : Rawat intensif di rumah sakit , dan melakukan semua anjuran dokter.
Tingkat keberhasilan : 30% untuk proses penyembuhan ( proses transplantasi hati ) .
Tingkat keseriusan : Telah mencapai stadium 2 menengah. **


Tangannya menggenggam erat ponsel di tangannya .
Bibirnya bergetar hebat setelah ia yakin kalau tulisan dalam email tersebut tida salah.
Setelah Jinki mengalami koma selama tiga hari itu Kibum memang meminta dokter Yuri untuk mengirim hasil cek kesehatan Jinki melalui emailnya , karena ia fikir itu adalah bagian dari tugasnya sebagai sekretaris sekaligus asisten Jinki.
Dan keputusannya beberapa minggu lalu itu sekarang berhasil membuatnya bertambah kacau.
Namun ia masih belum bisa mempercayai isi pesan tersebut . Ia segera menekan nomor kontak dokter yuri dan menelponnya , sementara itu Jonghyun kini mengandah bertanya.
"Bum ... Waeyeo ??? "
"Yeobseo ... Dokter kim ? Ini aku Kim Kibum , bisakah kau jelaskan isi email yg kau kirim padaku barusan?"
** Dokter Kim : Aku telah melakukan pemeriksaan tersebut selama berulang kali , dan ternyata hasilnya tetap seperti itu . Presdir Lee harus menjalani perawatan . Aku memang bukan dokter pribadinya , namun aku menghubungi dokter Yoon Tae joo yg selama ini menjadi dokter pribadinya . Dan akhirnya mendapatkan semua catatan kesehatannya selama 3 tahun terakhir ini . Tadinya aku berniat mengirimkan hasil check up ini pada Presdir Lee langsung , namun sampai sekarang aku tidak bisa menghubunginya . Dokter Yoon pun masih di luar negri, dan sulit di hubungi , namun setelah ku fikir lagi lebih baik aku mengirimnya padamu dulu , karena kau adalah asisten pribadinya. **
"Apakah dia akan mati ?"
Pertanyaan Kibum itu membuat Jonghyun semakin penasaran tentang apa yg sebenarnya Kibum bicarakan dan dengan siapa Kibum bicara.
** Dokter Kim : sejujurnya presdir Lee bisa saja sembuh , namun untuk melakukan operasi kami harus mempertimbangkan berapa persen tingkat keberhasilannya , dan kami pun harus meminta izin pada presdir sendiri . Tetapi aku hanya bisa menyarankan agar ia segera melakukan pengobatan , karena jika tidak .... nyawanya bisa terancam , ia hanya punya waktu sampai 6 bulan ini**
Jemari Kibum bergetar lalu menjatuhkan ponselnya .
Konfirmasi tersebut bukanlah hal yg ingin di dengar olehnya.
Kenapa di saat ia menghadapi beban dalam batin dan fikirannya , kini muncul masalah yg lebih berat lagi .
Kini Kibum seperti tengah berjalan di sebuah sungai yg di pinggirannya terdapat jurang yg curam .
Jika salah bergerak maka ia akan jatuh dan tenggelam .
Air matanya kembali menetes seiring beberapa bayangan melesat di benaknya.
Suara bising mesin kereta yg berjalan, di dominasi angin di luar sana seolah menjadi dengingan yg luar biasa di telinga Kibum.
Pandangannya menjadi kabur , semakin lama semakin kabur . Dan kemudian ia pejamkan matanya beberapa saat.



****

Kibum POV

Aku membuka mataku perlahan , tubuhku terasa nyaman , dan begitu hangat .
Ketika ku sadari , di sebelahku ada seseorang yg semula ku yakini adalah Jonghyun hyung , namun nyatanya bukan.
Dia adalah si pria bermata sabit yg barusan saja ku tangisi.
Ia tersenyum sangat manis padaku .
Entah apa yg ku fikirkan , Sekarang aku membalasnya dengan ramah.
Akankah ia ikut pergi denganku sekarang ini ?
"Kajja !!! "
Katanya berdiri lalu menjulurkan tangannya padaku , memintaku untuk mengikutinya.

Ku sambut tangan hangatnya dan kami berlari menuruni kereta , eskalator , dan terus berlari sampai akhirnya kami tiba di sebuah padang rumput yg luas .
Padang rumput yg tak ku kenali dimana letaknya dalam peta.
Dimana ini ???
Dan kenapa kami kesini ?


Molla....


Aku tak perduli ....
Biarlah kami tetap berlari seperti ini , jangan pernah berhenti .
Mungkin kami akan menjadi pengecut karena telah lari dari masalah hidup kami.
Namun apalah arti dari semua itu sekarang ?
Sekarang kamj hanya ingin bersama , menikmati udara dingin bersama , memandang butiran salju yg makin lama makin menebal di sekeliling kami.
Kami akan berlari sejauh mungkin sampai orang-orang tak menemukan kami lagi.

"Hosh hosh hosh .... uhuk uhuk ... chakkeumman ... nafasku habis ... " kataku kelelahan . Namun meski sampai nafas ini habis , padang rumput ini tetap tak bisa ku lalui .
Sangat luas seperti air sungai yg mengalir tanpa habisnya.

"Ahahaha ... kau lelah ? Kajja !!"
Ia berjongkok dan menyuruhku untuk naik ke punggungnya .

"Mwo ? Anniaa ... aku masih bisa berjalan . Sebaiknya kita istirahat dulu "
Saranku , kemudian ku jatuhkan punggungku di atas rumput , merasakan butiran salju yg turun memenuhi sekujur tubuhku.
Ku lihat ia pun berbaring di sebelahku , menggenggam tanganku erat dan tersenyum sumringah .
"Kemana kita akan lari ? Apakah kau sudah tahu ?"
Tanyaku , dengan penuh kepolosan Jinkiku hanya tersenyum semakin lebar lalu menggelengkan kepalanya.

"Aishh jinja ... kau mengajakku berlari tapi tidak tahu mau kemana , begitu maksudmu ?"
Ku omeli dia sambil mengerucutkan bibirku . Tetapi entah kenapa hati ini terasa sangat lega .
"Ouughh ... "

Tiba-tiba ia menindihiku dan kemudian ia putar posisiku menjadi diatasnya.
"Yakk .. apa yg kau lakukan huh ? Bagaimana kalau ada yg lihat ?? "
Tak ada yg bisa ku lakukan selain mengkoyak tubuhku dalam pelukannya.
"Kau ingat bukan ? Ini adalah posisi saat kita pertama bertemu . Auuhhh kau menindihiku dan menebarkan pesonamu itu sampai aku hampir lupa caranya mengedipkan mata ... aaahhh jinja ... kau sangat imut waktu itu bum,"
Ku rasakan wajahku memanas , sepertinya salju yg turun menimpa tubuhku ini malah terasa panas sekarang.
"Mwo ? Apa kau sedang menggodaku ? "
Ia menggeleng singkat dan tersenyum nakal.
"Mari kita lalui hari-hari kita dengan cara seperti ini , penuh gairah. "


Author POV
Jinki memutar posisinya kembali menindihi Kibum , menautkan bibirnya pada bibir lembut Kibum yg dingin.
Melumat tiap jengkal bibir Kibumnya penuh gairah.
Kibum pun menanggapi setiap kecupan Jinki tak kalah agresif .
Mereka bergumul di bawah salju yg dingin .
Bergantian saling mengulum bibir dalam lengguhan yg berapi-api.
Cukup lama mereka bercumbu , sampai akhirnya Kibum melepaskan kecupan tersebut lalu memeluk tubuh Jinki erat.
"Lihatlah .... apakah kita akanmenghabuskan hari kita dengan cara seperti ini,? saljunya terus turun memenuhi tubuh kita ahaha"
Tawa ringan Jinki sambil tangan kirinya melambai keatas langit , mencoba mengambil butiran salju.

"Kau tidak akan mati kan ?"
Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Kibum tanpa permisi.
Lawan bicaranya hanya tersenyum seperti menangkap apa yg Kibum maksud.
"Tentu ... aku tidak akan mati sebelum usiaku 100 tahun .. wae ? Kau tak percaya ?"
Kibum mengangkat kepalanya dan berusaha menatap wajah Jinki dari dekat.
"Jeongmal ? Entah kenapa aku merasa sedih jika sekarang kau akan meninggalkanku sendirian . Aku memang bodoh . Aku sudah mengatakan kata-kata bodohku kemarin . Faktanya aku memang mencintaimu Lee Jinki . Jadi maafkan aku dan jangan tinggalkan aku sendirian , maka aku pun takkan meninggalkanmu "
"Auhhh jinja ... apakah kau sedang mengarang novel ? Kapan kau mengatakan kata-kata bodoh ?? Dan kapan kau meninggalkanku ?
Heol ....Kau selalu mencintaiku dan menuruti semua yg ku inginkan , jadi kesimpulannya kau adalah kekasih terbaik yg ada di korea , dan hanya milikku , araseo huh ?"
Lee Jinki kini bicara seolah kalau ia tak mengetahui tentang apapun yg terjadi kemarin .
Ingatannya seperti terpusat hanya pada segala hal menyenangkan yg terjadi selama ia bersama dengan Kibum.
Senyuman polosnya selalu menjadi obat kesedihan bagi Kibum .
Kini mereka bisa tidur dan memejamkan mata dengan perasaan yg amat bahagia .
Tanpa memikirkan hal lain lagi selain menikmati pelukan hangat yg diharapkan takkan pernah terlepas lagi.
.




*****
Pukul 12 malam waktu setempat .
Detak jarum jam di sebuah koridor terdengar amat mencekam.


Trakk
Trakk
Trakkk


Suara hebtakan sepatu itu terdengar santai namun berulang di setiap detiknya.
Lee Taemin , pemuda 21 tahun itu kini menggenggam erat sebuah kalung salib di dadanya sambil memejankan matanya lekat-lekat , berdoa sungguh-sungguh demi sesuatu yg ada dalam doanya.
"Duduklah dulu Taemin-ssi , kau harus istirahat "
Ujar suara Bass Minho menyadarkannya.
"Tidak ... aku tak bisa duduk dalam keadaan seperti ini hyung , bisakah kau berhenti menyuruhku istirahat ?"

Lirih Taemin merengek , meminta agar Minho mengerti posisinya sekarang.
Mendengar umpatan ringan itu Minho akhirnya berdiri mendekati Taemin .
Membelai kedua bahu mungil pemuda yg baru saja mengisi hatinya itu dengan lembut.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini , kau tetap harus istirahat , setidaknya makanlah sesuatu .. lihatlah wajahmu sekarang huh ?"
Minho mengomentari wajah Taemin yg pucat sekaligus kelingan mata yg mulai terlihat di kelopak mata Taeminnya.

"Bagaimana aku bisa istirahat dan makan sementara Jinki hyung berada di dalam sana huh ? Kau lihat sendiri bukan ? Ia begitu kesakitan sampai melenyapkan kesadarannya. Kau pun tahu kalau ia memiliki fisik yg kuat dan takkan tumbang jika ia masih bisa menahan rasa sakitnya . Bahkan ia belum sadar sekarang , apakah aku harus istirahat sekarang ? Pantaskah aku istirahat sekarang huh ?!!!!!!"
Setelah Taemin memperjelas pemikirannya , Minho tak berani lagi untuk berucap .
Sejujurnya Minho amat mengerti dengan apa yg di rasakan oleh Taemin.
Bahkan sekarang ingin sekali ia memeluk tubuh mungil Taemin dan memberikan rasa hangat untuknya.
"Maafkan aku ... aku hanya tidak ingin kau pun jatuh sakit. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja . "
Taemin menatap wajah Minho yg di tundukkan.
Dalam sekejap rasa penyesalan menghampirinya.
"Mianh hyung .... aku .... hiks ... aku hanya merasa takut ... aku takut kalau Jinki hyung takkan bangun lagi , karena ... hanya ia satu-satunya keluarga yg ku miliki "
Minho segera memeluk Taemin yg kini menangis tersedu-sedu.
Hatinya ikut sakit melihat pujaan hatinya begitu terluka saat ini.
Takdir memang seringnya terlihat kejam .
Namun itulah kehidupan , takkan terjadi jika tanpa campur tangan sesuatu yg di sebut takdir.
Tanpa di duga , Jinki kini tengah berada dalam masa kritisnya di dalam ruang UGD .
Bersama para dokter ,kini Jinki berjuang untuk setidaknya mendapatkan sedikit kesempatam dari Tuhan.
Penyakitnya semakin menggerogotinya tanpa ampun .
Sejak kapan ia merasakan sakit?
Sepertinya itu bukan pertanyaan yg penting lagi .
Yg terpenting sekarang adalah mengharapkan keajaiban dari Tuhan.
Dan semoga saja janji yg ia ucapkan dalam mimpi Kibum itu menjadi kenyataan. Mimpi yg di yakini Kibum sebagai kenyataan manis di bawah hujan salju yg indah.


**Mimpi** adalah sebuah *Jalan Megah yg indah* sebuah siatuasi ketidaksadaran , tercipta dari sebuah keinginan terlarang yg kalian miliki , namun tak berani kalian akui.
Anggaplah mimpi itu sebagai keinginan Kim Kibum yg tak berani ia utarakan.
Lalu apakah Lee Jinki pun bermimpi tentang hal yg sama?



TBC_

HOTELIER PAGE 11


Diterbitkan 5464 Kata

HOTELIER page 11


 Tentang pengorbanan dan Mimpiku



Author POV

Ini sudah pukul 11 malam waktu setempat.
Tapi kendaraan di jalan masih saja ramai berlalu lalang dengan santainya . Memang sangat santai sampai seseorang berjas hitam kelam berjalan tanpa sadar berada dimana ia sekarang.
Ketika menemui sebuah tikungan tajam ,matanya meruncing , ia ingat betul menuju kemana tikungan tersebut.
Anggaplah ia sedang menimbang-nimbang apa yg mesti ia lakukan sekarang.
Minum soju di kedai yg ada di sebrang jalan kah ? Atau melanjutkan perjalanan untuk menuju tempat yg sedari tadi menari-nari di kepalanya .
Sejujurnya ia sudah sangat lelah berjalan selama kurang lebih 2 jam ,belum lagi tubuhnya tak dilegkapi mantel bulu kesayangannya ataupun sebuah payung.
Ia hanya menuju tujuan utamanya, yaitu mencari sosok pemuda berbahu mungil dengan pesona mata kucing yg tak seorang pun memilikinya.
_
_
_
Lee Jinki baru saja melewati tikungan tajam tersebut , merasakan udara malam semakin menusuk dadanya akibat jalanan menanjak.
Dan ketika itu pula ,air dari lagit berjatuhan membasahi sekujur tubuhnya lebih dahsyat lagi.
Semestinya ia membawa mobilnya sejak tadi , dibanding berjalan tanpa arah seperti orang bodoh , kendati tujuanya memang rumah Kim Kibum yg jalannya amat di hafalnya.
Rupanya alam sedang tak bersahabat dengannya, namun pencarian Kim Kibum tetap harus dilakukannya.
Meski ia tak bisa menemukan Kibum di rumahnya , ia harap ada Jonghyun yg bersedia memberikan teh jali hangat untuknya.
Sungguh ia lebih berharap lagi ada Kibum yg bisa mendengarkan segala keluhannya ketika berjalan selama 2 jam tadi demi sebuah penjelasan ,dan setelah itu bertanya tentang apa yg di fikirkan oleh Kibum sekarang.
Meski itu harapan yg tak mungkin , sebab ia telah ditinggalkan .
Apa boleh buat , Lee Jinki bukan pria yg mudah menyerah ,maka dari itu ia tetap berfikir tentang harapannya.


Ting
Tong


Tangannya menekan bell kuat-kuat.
Berdoa semoga ada orang di rumah.
Ia berteduh di balik tembok pagar yg sudah usam dimakan usia, agar setidaknya tubuhnya bisa sedikit terlindungi.
Ia tak boleh sakit , sebab ia masih harus berjuang untuk masa depannya bersama Kim Kibum. Fikirnya.



Ceklekkk


Ketika pintu terbuka ia bisa melihat wajah kuyu dari sosok berkantung mata tebal mengandah bertanya.
"Jinki-ssi .... ? Sedang apa kau disini ? Kajja ... masuklah !!!"
Sergah tuan kantung mata bernama Kim Jonghyun itu segera menariknya untuk masuk.
Beruntung Jonghyun langsung menyuruhnya masuk tanpa bertanya apapun .
Jinki mengekor di belakang Jonghyun dengan keadaan basah kuyup .
Tak sampai semenit ia mendapatkan handuk dari Jonghyun yg kemudian membimbingnya untuk duduk di meja mungil yg biasa di pakai oleh Kibum dan Jonghyun untuk makan ataupun selebihnya.
Hyung beralis tebal itu memberikan segelas teh jali hangat seperti harapan Jinki.
"Gomawo Jonghyun-ssi"
Segera saja Jinki menyambar teh panas itu .

"Hati-hati , itu masih panas"
Ujar Jonghyun mengingatkan ,setelahnya benar saja Jinki merasakan mulut dan lidahnya seperti melepuh.
Ia bahkan hanya tersenyum menyadari tindakan kurang sabarnya.


"Apa yg kau lakukan malam begini ? Bukankah di luar hujan ? Apa kau tak bawa mobil? "
Tanya Jonghyun seraya menuangkan lagi teh jali di cangkir Jinki yg sudah kosong.
Jinki tak berniat menjawab pertanyaan Jonghyun , ia lebih memilih untuk langsung ke pokok permasalahan.


"Apa Kibum tidak ada disini,?"
Tanya Jinki sambil meniup gelasnya.

"Anni ... bukankah dia bersamamu ? Ku kira ia akan tinggal di rumahmu lebih lama?"


"Inginku juga begitu . Tapi ternyata ia malah meninggalkanku . Mungkin ini terlihat sedikit memalukan untukku , tapi baru saja 2 jam yg lalu ia menolak lamaranku "
Penjelasan itu membuat mata Jonghyun hampir melompat .


"Menolak ? Lalu apa alasannya ? "


"Entah . Dia bilang sudah tak mencintaiku lagi , apa menurutmu itu masuk akal ?"
Pertanyaan Jinki itu membuat Jonghyun teringat pada sosok adiknya yg begitu polos , dan selalu membicarakan kebahagiaannya bersama Jinki.
Sedetik kemudian ia menggeleng cepat , menyetujui ketidak masuk akalan keputusan Kibum.


"Aku tahu betul apa yg dirasakannya , jadi percayalah kalau itu bohong"
Keyakinan Jonghyun itu sudah pasti bisa di pertanggung jawabkan.



Trakkk


Tiba-tiba saja suara yg berasal dari pintu terbuka menyita perhatian mereka berdua.
Nampaklah Kibum dengan wajah kuyu, tubuh basah kuyup dan mata yg sembab memasuki area tempat Jinki dan Jonghyun berada.
"Bum ?!!!" Seruan Jonghyun mengandah bertanya. Sekilas Kibum melirik ke arah Jinki lalu segera pergi dari tempatnya berdiri sekarang.
Kibum masih belum siap bertemu dengan Jinki sekarang , hatinya terlalu lemah dan sakit untuk menanggung segala beban fikirannya. Ditambah beban yg baru saja di terimanya.



1 jam sebelumnya.


Kibum berdiri di hadapan Lee myung jin dengan kaki gemetaran , nafas yg kembang kempis dan emosi yg tak terlampiaskan.



Plukkkk



Lee myung jin melemparkan sebuah amplop putih ke hadapan Kibum. Senyuman penuh arti menghiasi wajahnya.
"Karena kau tidak mau menyerahkan proyek Gold Diamond padaku , maka ini adalah 100 juta dolar untukmu . Dan pergilah dari Korea . Ku rasa aku pun tak mungkin membiarkanmu berada terus di Korea dan mengganggu anakku. "
Kibum menatap amplop yg ada di aspal tersebut ,
lalu mengambilnya.




Sreekkk
Sreekkk
Sreeekkk




Mata Myung Jin membulat terkejut melihat tangan Kibum kini merobek cek 100 juta dolar itu dengan entengnya.
Tetapi Lee myung jin adalah manusia yg memiliki seribu wajah , ia kendalikan keterkejutannya dan kemudian tersenyum.
"Ahahahahaha..... ahahahahaaaa.... kau merobeknya ? Sepertinya kau sangat keras kepala...Dasar bocah tolol "
Celetuknya .
"Mungkin aku memang tolol . Tapi setidaknya aku masih memiliki hati nurani . Aku tak mungkin menukar orang yg ku cintai dan ku sayangi demi uang . Aku bukan orang sepertimu yg dengan mudah menukar anaknya demi uang ,lalu membiarkan anaknya menderita selamanya. Maaf aku masih memiliki hati , karena aku adalah manusia "
Seketika tawa myung jin sirna dari wajahnya . Sedikitnya ia terangsang oleh ucapan Kibum itu . Tentang dirinya yg tak berperasaan , itu bukanlah sesuatu yg terjadi sejak ia lahir , karena manusia di ciptakan dengan akal dan fikiran yg bereaksi melalui hati lalu perbuatan.
Dahulu Lee myung Jin adalah orang yg sempurna dimata orang banyak .
Dicintai banyak orang di sekelilingnya , dan oleh seorang wanita yg sudah sejak lama bersamanya.
suatu ketika ia mendapati bahwa kenyataan begitu menyakitkan . Disaat ia sengaja di tinggalkan oleh orang tua yg begitu di hormati dan di cintainya.
Ia di jual ke sebuah komplotan gengster dan menjadi budak disana. Budak dari segala kegiatan , mulai dari budak pesuruh sampai budak sex para komplotan gengster yg menginginkannya.
Sampai suatu ketika ia bertemu dengan seorang gadis bernama Shin Ok jung .
Gadis muda yg begitu cantik dan mulai mewarnai hidup Myung jin dari kegelapan . Gadis itu berhasil membawa myung jin dari keterpurukan menuju masa depan yg cemerlang. Dari tahun ke tahun usaha motel kecil yg digelutinya semakin maju hingga setaraf dengan usaha kelas menengah.
Akan tetapi ketika suatu saat Ok Jung mengetahui segala cerita di balik kesuksesan Myung Jin , Gadis itu kecewa pada myung Jin yg merebut lahan panti asuhan tempat Ok jung mengasuh anak-anak yatim piatu untuk di jadikan sebuah gedung hotel yg saat ini menjadi Diamond hotel .
Tempat yg merupakan rumah bagi Ok Jung sedari ia kecil itu di rampas tanpa ampun oleh orang yg ia cintai , membuat gadis itu kecewa . Disanalah Gadis yg merupakan cinta sejati Lee myung jin meninggalkannya selamanya, menyisakan api dendam yg tak pernah padam kepada siapapun , sampai akhirnya kini terlampiaskan melalui anak-anak kandunnya sendiri.




*****
Myung Jin menatap wajah pemuda kuyu namun dengan tatapan berani di hadapannya.
"Kau melakukan semua ini karena cinta ? Ahahaha , kau ini lucu sekali. Justru aku malah semakin yakin kalau jumlah 100 juta dolar adalah jumlah yg kecil bagimu . Kau menginginkan Diamond hotel bukan ? Cintamu pada anakku itu palsu ."
Kibum mengerutkan dahinya .
"Tuan. Kau adalah orang tercerdas yg pernah ku temui , aku yakin kau bisa melihat semua ketulusan dari mataku . Dan aku sendiri melihat api kekecewaan dalam matamu . Entah apa yg terjadi padamu dimasa lalu , dan siapa yg telah menyebabkan dirimu kecewa sampai kau menjadi monster seperti ini . Tetapi aku hanya ingin mengatakan , sejauh apapun kau memupuk perasaan dendam dalam hatimu , pada akhirnya kehancuranlah yg akan kau dapatkan "
"KAU !!!!........."
"Dan sejauh apapun kau menghindari rasa kecewamu di dalam kegelapan , maka kau sendiri akan tenggelam di dalamnya jika kau tak menghadapinya dengan berani . Seharusnya kau menghadapi dan melaluinya dengan tegar jika kau memang benar-benar orang yg kuat . Lalu setelahnya kau memulai kembali kehidupan barumu dengan indah tuan. Bukannya membalaskan semua kekecewaanmu melalui Jinki ataupun Taemin . Karena Lee Jinki dan Taemin tidak bersalah . Terutama Jinki , ia adalah makhluk polos yg telah kau hancurkan hidupnya . "
Rentetan penjelasan dari Kibum itu membuat myung jin terpaku . Pemuda yg myung Jin yakini sebagai pemuda ingusan dan menjijikan itu seperti mengetahui apa yg terjadi padanya di masa lalu .
Apa daya Lee Myung jin sekarang ?
Ia hanya melongo menyadari kebenaran atas pemikiran Kibum.
Mungkin ia memang bisa melakukan apapun demi mendapatkan keinginannya . Namun ia tetap tidak akan bisa mengubah kenyataan , kenyataan kalau selama ini dirinya telah membalaskan rasa dendamnya pada anak-anaknya sendiri.
Sekali myung Jin menarik nafas dan berkata.
"Kau terlalu banyak bicara . Sebaiknya kau pergi dan jangan pernah muncul lagi di hadapanku . "



*******
Sekarang Lee Jinki tengah berdiri di hadapan pintu kamar Kibum .
Menggedor pintu kamar yg telah usam dimakan usia itu dengan kuatnya.


Dug
Dug
Dug



"Kibum-ahh ... tolong buka pintunya ... kau harus menjelaskan dulu padaku apa yg terjadi sampai kau menolakku .Bum-ahh !!! Kim kibum !!! "
Apapun yg dikatakan oleh Jinki , Kibum tetap saja bersikukuh diam .
Duduk telungkup di depan pintu kamarnya sama yg di lakukan Jinki sekarang .
Punggung mereka hanya di batasi selembar pintu kayu .
Merasakan kembali kepedihan bersama-sama .


"Aku akan tetap menunggumu disini bum ... sampai kau keluar dan menjelaskan semuanya . " ujar Jinki kembali dudul bersandar di depan pintu .
Sementara itu orang yg Jinki tunggu,hanya bisa menangis , menangisi tentang kenapa semua ini harus terjadi pada hidupnya.
Manisnya cinta yg baru saja ia rasakan nampak seperti mimpi .
Betapa sulitnya hidup bahagia .
Haruskah Kim Kibum menuntut Tuhan ke pengadilan agar bisa bersikap adil padanya ?
Tentu saja itu bukan tindakan yg rasional .
Entahlah ...
Yg jelas sekarang pemuda penuh penderitaan itu ingin istirahat dan tidur . Agar ia bisa kembali memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa menjalani semua masalahnya.
Matanya mulai terpejam dan dalam beberapa menit ia sudah terjaga dalam tidurnya.




*******
Kibum POV
Pagi ini aku telah menyiapkan semua barang-barangku dan hyung , meski tak semuanya , termasuk rumah ini yg tak akan pernah ku jual  .
Meski hati ini tak ingin pergi , namun aku harus tetap pergi.
Tuhan pasti tahu apa yg ku lakukan untuk orang-orang yg ku sayangi .
Aku tak pernah menyesali pertemuanku dengannya . Ya ... dengan Lee Jinki .
Karena bukan ialah penyebab penderitaanku , akan tetapi ayahnya.
Senyumannya masih sangat ku hafal , dan aroma tubuhnya selalu ku cium serasa ia berada di sampingku .
Aku akan pergi meninggalkannya sendirian lagi seperti dulu .
Mungkin butuh waktu setahun dua tahun untukknya melupakanku .
Aku yakin ia akan kembali mendapatkan kebahagiaan yg lain dalam hidupnya , karena setahuku Tuhan tak akan pernah meninggalkan orang sepertinya dan orang seperti aku , yaitu orang yg setidaknya memiliki hati untuk mengorbankan kebahagiaannya dan orang yg tak berdosa seperti Jinki.
Meskipun Tuhan meninggalkannya , maka aku akan meminta pada Tuhan agar menukarkan kebahagiaanku untuknya . Setidaknya itu cukup membuatku tenang .
Masa-masa sulit sekarang ini pasti akan berubah menjadi masalalu di kemudian hari .
Gwenchana.....
Dan masa-masa kehidupan manis kami berdua pasti akan tetap menjadi kenangan yg indah untukku.

"Sebenarnya ada masalah apa sampai kita harus pindah bum?"
Celetuk hyung bertanya .
Sebab ia memang tak mengerti dengan jalan fikiranku sekarang ini .
Aku hanya tersenyum simpul padanya , sejujurnya aku pun bingung harus menjelaskan apa padanya, akan lebih baik jika aku mengatakan padanya kalau aku tak mencintai Jinki lagi .
"Aku rasa hidup di Seoul sangat sulit hyung , kita selalu kekurangan bukan ? Dan lebih mudah hidup di desa seperti saat kita kecil dulu . Orang-orang desa selalu bersedia berbagi makanan dengan kita meski kita tak punya uang , bukankah itu bagus ?"

"Ada apa antara kau dan Jinki,? Bisakah kau memberitahuku ?"
Mendengar ungkapan serius itu aku merasa kalau hyung sungguh-sungguh memperhatikan hubunganku dengan Jinki sekarang.
Tetapi aku tak ingin membuat

"Aku dan dia sudah berakhir hyung . Eummmm jujur saja Jinki itu punya sifat yg buruk , dan dia juga dingin, terlebih ia itu terlalu kaya , kau tahu betul bukan seperti apa orang kaya hyung ? Hehee"
Sebetulnya ini ungkapan terbodoh yg pernah ku ucapkan seumur hidupku.

"Bohong !! Kau fikir aku ini siapa? Aku adalah hyungmu sejak kau lahir , jadi aku tahu saat kau berkata bohong . "
Ya ... aku salah mengatakan itu . Sudah pasti hyung akan mengetahuinya.
Namun aku harus tetap berusaha meyakinkan hyung untuk pergi bersamaku.
"Eummm bisakah sekarang ini kau hanya menuruti apa mauku hyung ? Aku mohon jangan bertanya lagi mengenai hubunganku dan Jinki . Kami sudah berakhir , dan aku menganggap kalau kami tidak berjodoh."
Hyung terdiam ,matanya menerawang kearahku , aku tahu ia berusaha membaca ekspresi wajahku saat ini .
"Ada banyak beban fikiran yg kau pikul bum ... aku tahu itu . Beban yg sangat berat sampai kau harus merelakan kebahagiaanmu . Kau boleh menahan semua beban beratmu itu selagi kau kuat , namun ketika kau tak kuat , bisakah kau bagi bebanmu itu pada hyungmu ini ? Jangan sampai kau terjatuh "
Mendengar kata-kata itu seketika mataku menjadi panas . Aku tahu kenapa Tuhan membuat orang-orang yg tak memiliki materi itu bisa tetap bahagia , yaitu disaat orang-orang tersebut memiliki seseorang yg bisa diajak menanggung beban bersama-sama . Seperti aku yg memiliki Jonghyun Hyung.


Ting
Tong


Suara bell terdengar sangat nyaring tanpa jeda beberapa kali.
Aku sangat khawatir jika yg datang itu adalah Jinki , jika memang ya , mungkin aku tak akan bisa pergi hari ini , sementara perjanjianku dengan komisaris Lee adalah hari ini aku harus pergi.
Sebelum aku pergi Jonghyun hyung sudah membuka pintu dan masuklah
Seseorang dari sana .
"Bum ... ?!"
Seseorang yg datang itu adalah Minho .
Syukurlah itu bukan Jinki ataupun Tuan Lee.
Sekarang kami duduk berdua di teras belakang rumahku.
Tatapan Minho begitu lekat padaku , namun aku sendiri tidak terfokus padanya karena saat ini fikiranku sangat kacau.
"Apa kau akan pergi begitu saja meninggalkan Jinki ?"
Pertanyaan Minho itu sedikitnya membuatku kelimpungan. Ia memang tipe orang yg bisa menakhlukan lawan bicaranya dalam sekejap
"Ne.."
Hanya itu yg bisa katakan sementara ini.

"Wae ? Bukankah dulu kau mati-matian ingin bersamanya huh ? Kau lebih memilih dia daripada aku , dan sekarang kau mau meninggalkannya , kepribadian macam apa ini ?!!!!!"
Ku tatap mata Minho kini berubah memerah , api emosi terlihat jelas disana , dan aku hanya bisa terdiam dengan kepala semakin berdenyut.

"Apa kau fikir aku dan Jinki adalah mainanmu huh ? Sekarang aku sudah bisa menerima kalau kau bukan untukku karena ..... karena ada Lee Taemin disisiku . Tetapi bagaimana dengan Jinki huh ? Dia tidak memiliki siapapun disisinya . Lalu bagaimana ia akan bertahan huh ? Apa kau setega itu padanya ?"
Sederet pertanyaan Minho itu membuat hatiku serasa di tusuk-tusuk .
Sangat sakit sampai nafas ini tercekat , apalagi ketika mengingat betapa rapuhnya Jinki .
Namun nyawanya dan nyawa hyung sangatlah berarti bagiku.
Aku harus kuat menghadapi semua ini.

"Maaf Minho ... aku harus tetap pergi . Dan tolong jangan cari tahu tentang keberadaanku nanti ."
Akhirnya aku putuskan untuk pergi meninggalkan Minho yg kini masih duduk membisu , aku tahu ia tengah menatapku kebingungan sekarang . Namun apapun yg terjadi aku harus tetap pergi.
"Bukan aku yg akan mencarimu bum , tetapi aku yakin Jinkilah yg akan mati-matian mencarimu "
" kalau begitu aku akan pergi ke tempat yg tak akan pernah ia ketahui ."
"Ia akan tetap menemukanmu , meskipun kau pergi ke ujung dunia sekalipun. Aku sangat tahu Lee Jinki . Ia pasti akan melakukan apapun demi mendapatkan keinginanmu. Jadi ku peringatkan, sebaiknya kau menyerah saja dan jangan pernah lari darinya"
Perkataan Minho itu sepenuhnya mengingat tentang sifat Jinki . Ia memang benar , kalau Jinki memang tipe orang seperti itu.




********
Author POV

Jonghyun dan Kibum duduk bersama di sebuah bangku tunggu di stasiun kereta.
Beberapa kereta datang lalu berhenti , termasuk kereta yg ada di hadapan Kibum dan Jonghyun saat ini.
Kibum menatap kereta itu dengan tatapan kosong.
Fikirannya entah ada dimana sekarang , terlalu banyak yg ia fikirkan sehingga membuatnya bingung.
"Apa kau yakin akan meninggalkan Seoul ? Aku hanya takut kalau kau akan menyesal nantinya."
Pertanyaan Jonghyun itu hanya mendapat anggukan dari Kibum.
"Kibum-ahh ,ceritakan padaku apa yg terjadi ? Aku tahu ada banyak hal yg kau fikirkan sekarang . Apakah ada yg melakukan sesuatu sampai kau berani meninggalkan Jinki ? "
Kibum mendelik kearah Jonghyun .
membuat lidahnya kelu untuk sekedar membuat kebohongan.
"Aku hanya tidak ingin membuatnya menderita di kemudian hari . Jika aku tetap bersamanya itu akan membahayakan hidupnya "
Jonghyun mengerutkan dahinya kebingungan.
"Yg pasti , aku sudah melakukan apa yg bisa ku lakukan , yaitu melindungi orang-orang yg ku cintai dengan cara seperti ini"
Lanjut Kibum.


"Siapa yg ingin kau lindungi ? Lindungi dari apa ?"
Suara itu berasal dari arah belakang Kibum dan Jonghyun , nampak Jinki tengah berjalan kearah Kibum dengan tatapan datarnya.
Sementara Kibum kini diam membatu , tak bisa segera menjawab apa-apa .
Akan sangat bahaya jika Jinki menemukan fakta kalau dirinya masih sangat mencintai Jinki.
Beberapa detik mereka beradu pandang .
"Siapa yg ingin kau lindungi ? Kenapa kau tidak menjawabku ?"
Kibum menarik nafasnya dan mulai menata perkataannya.

"Hyung .... aku hanya ingin melindunginya. "
Jinki terkekeh pahit mendengar penjelasan Kibum .


"Jelas sekali tadi aku dengar kau ingin melindungiku , kenapa harus berbohong huh ? Apakah AKU ORANG YG PANTAS KAU BOHONGI ?!!!!!"
Dalam sekejap mereka berdua menjadi pusat perhatian setiap orang yg berlalu lalang. Wajah Jinki memerah padam , ia sungguh tak mengerti dengan apa yg dilakukan Kibum sekarang .
"Kau berniat meninggalkanku sementara kau sangat mencintaiku . Apa maksud ini semua huh ? Siapa yg membuatmu jadi konyol seperti ini ? Katakan !!!"
Kibum menghela nafas dan mati-matian menahan air matanya yg hampir jatuh.
"Apapun yg kau katakan , itu tidak akan merubah keputusanku . Kau hanya bisa menjadi mimipi untukku , dan untungnya aku bisa menyadari itu dengan cepat . Ne ... aku ingin melupakanmu.. aku tidak ingin mencintaimu lagi , karena ..,,,, "
Kalimat Kibum berhenti sampai disitu . Sekarang ia berbalik arah membelakangi Jinki . Tak ingin menatap wajah Jinki lagi demi menyembunyikan segala kenyataan yg mungkin kapan saja bisa terungkap lewat mulutnya.


"Kajja .... ini sudah seharusnya kita pergi hyung !!!"
Ungkap Kibum menarik kopernya dan meraih tangan Jonghyun.

"Sekali kau melangkah .... maka kau.... kau tak akan bisa kembali lagi padaku . Araseo !!!?"
Kibum memejamkan matanya lekat-lekat , menahan segala hal yg ingin ia katakan pada Jinki saat ini .
Lututnya terasa lemas , pertahannya seperti akan runtuh disaat jinki memperingatkannya.
Apakah Kibum bisa menahan semua rasa sakitnya , ataukah ia akan kembali pada Jinki dan memeluknya erat ,sebab ia benar-benar tak bisa mendengar semua yg Jinki katakan .
Sementara Jonghyun hanya seperti orang ling lung yg tak mengerti apapun.
Namun ia bukan tak mengerti , melihat Kibum berlinang air mata ,ia semakin yakin kalau adiknya itu tidak akan pernah menyianyiakan orang yg ia cintai jika tidak di landasi alasan yg kuat.
Lebih baik Jonghyun sekarang mengikuti apa kemauan Kibum , yaitu tetap berjalan meski seseorag di belakang mereka tengah menunggu dengan harap-harap cemas dilengkapi dada yg kembang kempis.
Akan tetapi bagaimana dengan nasib hubungannya dengan Kim Subin ?
Jonghyun masih harus memikirkan hal itu , sebab kehidupan pribadi pun cukup penting baginya.
Ketika menerawang kalau antara dirinya dan Subin tak ada masalah yg rumit ,Jonghyun sedikit tenang , setidaknya ia bisa menelpon Subin ketika sampai di tempat tinggal yg barunya bersama Kibum. Fikirnya.
Kim Kibum dan Jonghyun akhirnya berbaur di dalam keramaian para calon penumpang kereta api yg akan segera berangkat . Semakin lama semakin mengabur dari penglihatan Jinki.
Tangan pria bermantel kulit itu mengepal kuat , menyalurkan setiap emosi dan kesedihannya dalam sebuah kepalan . Tentu itu tidak cukup baginya.
Sekarang ia meneteskan air matanya agar setidaknya ia bisa melupakan semua yg dikatakan Kibum padanya barusan.
Andai ia memiliki kekuatan telekinetis yg mampu melumpuhkan ingatannya dalam sekejap dan beberapa menit saja , mungkin ia sudah menggunakannya .
Kenyataannya ia hanya manusia biasa yg hanya bisa menangis seperti pria bodoh yg di tinggalkan kekasihnya.
Sekarang ia benar-benar rindu dimana ia menjadi patung ataupun boneka ayahnya seperti dulu . Dimana ia tak bisa merasakan apapun termasuk perasaan sakit karena putus cinta.
Ia tak bisa memanggil nama Kim Kibum lagi meski nama itu menari-nari di dalam mulutnya .
Ancamannya tadi itulah penyebabnya , meaki tak menghasilkan apapun , namun ia masih harus mempertahankan sedikit harga dirinya demi ancaman tersebut .
Kesal kenapa ia buru-buru mengtakan ancaman seperti tadi pada Kibum . Memang siapa dirinya berani mengatakan hal itu ? Kecuali ia benar-benar bisa mengatasi beban fikirannya tanpa menangis.



*****
Di dalam kereta , Kibum dan Jonghyun duduk di deretan bangku paling ujung sambil di kuasai dalam keheningan.
Mereka berkutat dengan isi kepala mereka masing-masing tanpa menggubris polusi suara yg terjadi dalam kereta . Hari ini sangat tumben kereta menjadi penuh sesak , beruntung mereka duduk di ujung dan bisa menikmati pemandangan di luar jendela .
Namun bukan itulah yg terpenting sekarang.



Drrrttt
Drrrrttt



Ponsel Kibum bergetar , menayangkan sebuah pesan dari email terisi oleh satu user yg masuk .
Kibum mengusap air matanya dan berusaha untuk tegar sambil membuka pesan email yg masuk, meski ia tak bernafsu untuk itu , tapi iti lebih baik di banding hanya melamun memikirkan perpisahannha dan Jinki.
Semenit kemudian setelah ia selesai membaca , itupun ia baca berulang kali sampai ia yakin kalau sekarang ia harus membelalakan matanya yg sembab.


** from . Dr. Kim yuri .
Hasil general check up  Jinki Lee.

Nama : Jinki Lee .
Usia : 27 tahun
General Check : Positif mengidap Sirosis
Notice : Terbilang dari hasil pemeriksaan 27 agustus 2016 , Lee Jinki-ssi melakukan beberapa check up .
Riwayat kesehatan : pasien pernah megalami banyak pendarahan di beberapa organ dalam tubuhnya pada kecelakaan 3 tahun lalu . patah tulang , 2 kali koma , dan Sirosis .
Metode pengobatan : Rawat intensif di rumah sakit , dan melakukan semua anjuran dokter.
Tingkat keberhasilan : 30% untuk proses penyembuhan ( proses transplantasi hati ) .
Tingkat keseriusan : Telah mencapai stadium 2 menengah. **


Tangannya menggenggam erat ponsel di tangannya .
Bibirnya bergetar hebat setelah ia yakin kalau tulisan dalam email tersebut tida salah.
Setelah Jinki mengalami koma selama tiga hari itu Kibum memang meminta dokter Yuri untuk mengirim hasil cek kesehatan Jinki melalui emailnya , karena ia fikir itu adalah bagian dari tugasnya sebagai sekretaris sekaligus asisten Jinki.
Dan keputusannya beberapa minggu lalu itu sekarang berhasil membuatnya bertambah kacau.
Namun ia masih belum bisa mempercayai isi pesan tersebut . Ia segera menekan nomor kontak dokter yuri dan menelponnya , sementara itu Jonghyun kini mengandah bertanya.
"Bum ... Waeyeo ??? "
"Yeobseo ... Dokter kim ? Ini aku Kim Kibum , bisakah kau jelaskan isi email yg kau kirim padaku barusan?"
** Dokter Kim : Aku telah melakukan pemeriksaan tersebut selama berulang kali , dan ternyata hasilnya tetap seperti itu . Presdir Lee harus menjalani perawatan . Aku memang bukan dokter pribadinya , namun aku menghubungi dokter Yoon Tae joo yg selama ini menjadi dokter pribadinya . Dan akhirnya mendapatkan semua catatan kesehatannya selama 3 tahun terakhir ini . Tadinya aku berniat mengirimkan hasil check up ini pada Presdir Lee langsung , namun sampai sekarang aku tidak bisa menghubunginya . Dokter Yoon pun masih di luar negri, dan sulit di hubungi , namun setelah ku fikir lagi lebih baik aku mengirimnya padamu dulu , karena kau adalah asisten pribadinya. **
"Apakah dia akan mati ?"
Pertanyaan Kibum itu membuat Jonghyun semakin penasaran tentang apa yg sebenarnya Kibum bicarakan dan dengan siapa Kibum bicara.
** Dokter Kim : sejujurnya presdir Lee bisa saja sembuh , namun untuk melakukan operasi kami harus mempertimbangkan berapa persen tingkat keberhasilannya , dan kami pun harus meminta izin pada presdir sendiri . Tetapi aku hanya bisa menyarankan agar ia segera melakukan pengobatan , karena jika tidak .... nyawanya bisa terancam , ia hanya punya waktu sampai 6 bulan ini**
Jemari Kibum bergetar lalu menjatuhkan ponselnya .
Konfirmasi tersebut bukanlah hal yg ingin di dengar olehnya.
Kenapa di saat ia menghadapi beban dalam batin dan fikirannya , kini muncul masalah yg lebih berat lagi .
Kini Kibum seperti tengah berjalan di sebuah sungai yg di pinggirannya terdapat jurang yg curam .
Jika salah bergerak maka ia akan jatuh dan tenggelam .
Air matanya kembali menetes seiring beberapa bayangan melesat di benaknya.
Suara bising mesin kereta yg berjalan, di dominasi angin di luar sana seolah menjadi dengingan yg luar biasa di telinga Kibum.
Pandangannya menjadi kabur , semakin lama semakin kabur . Dan kemudian ia pejamkan matanya beberapa saat.



****

Kibum POV

Aku membuka mataku perlahan , tubuhku terasa nyaman , dan begitu hangat .
Ketika ku sadari , di sebelahku ada seseorang yg semula ku yakini adalah Jonghyun hyung , namun nyatanya bukan.
Dia adalah si pria bermata sabit yg barusan saja ku tangisi.
Ia tersenyum sangat manis padaku .
Entah apa yg ku fikirkan , Sekarang aku membalasnya dengan ramah.
Akankah ia ikut pergi denganku sekarang ini ?
"Kajja !!! "
Katanya berdiri lalu menjulurkan tangannya padaku , memintaku untuk mengikutinya.

Ku sambut tangan hangatnya dan kami berlari menuruni kereta , eskalator , dan terus berlari sampai akhirnya kami tiba di sebuah padang rumput yg luas .
Padang rumput yg tak ku kenali dimana letaknya dalam peta.
Dimana ini ???
Dan kenapa kami kesini ?


Molla....


Aku tak perduli ....
Biarlah kami tetap berlari seperti ini , jangan pernah berhenti .
Mungkin kami akan menjadi pengecut karena telah lari dari masalah hidup kami.
Namun apalah arti dari semua itu sekarang ?
Sekarang kamj hanya ingin bersama , menikmati udara dingin bersama , memandang butiran salju yg makin lama makin menebal di sekeliling kami.
Kami akan berlari sejauh mungkin sampai orang-orang tak menemukan kami lagi.

"Hosh hosh hosh .... uhuk uhuk ... chakkeumman ... nafasku habis ... " kataku kelelahan . Namun meski sampai nafas ini habis , padang rumput ini tetap tak bisa ku lalui .
Sangat luas seperti air sungai yg mengalir tanpa habisnya.

"Ahahaha ... kau lelah ? Kajja !!"
Ia berjongkok dan menyuruhku untuk naik ke punggungnya .

"Mwo ? Anniaa ... aku masih bisa berjalan . Sebaiknya kita istirahat dulu "
Saranku , kemudian ku jatuhkan punggungku di atas rumput , merasakan butiran salju yg turun memenuhi sekujur tubuhku.
Ku lihat ia pun berbaring di sebelahku , menggenggam tanganku erat dan tersenyum sumringah .
"Kemana kita akan lari ? Apakah kau sudah tahu ?"
Tanyaku , dengan penuh kepolosan Jinkiku hanya tersenyum semakin lebar lalu menggelengkan kepalanya.

"Aishh jinja ... kau mengajakku berlari tapi tidak tahu mau kemana , begitu maksudmu ?"
Ku omeli dia sambil mengerucutkan bibirku . Tetapi entah kenapa hati ini terasa sangat lega .
"Ouughh ... "

Tiba-tiba ia menindihiku dan kemudian ia putar posisiku menjadi diatasnya.
"Yakk .. apa yg kau lakukan huh ? Bagaimana kalau ada yg lihat ?? "
Tak ada yg bisa ku lakukan selain mengkoyak tubuhku dalam pelukannya.
"Kau ingat bukan ? Ini adalah posisi saat kita pertama bertemu . Auuhhh kau menindihiku dan menebarkan pesonamu itu sampai aku hampir lupa caranya mengedipkan mata ... aaahhh jinja ... kau sangat imut waktu itu bum,"
Ku rasakan wajahku memanas , sepertinya salju yg turun menimpa tubuhku ini malah terasa panas sekarang.
"Mwo ? Apa kau sedang menggodaku ? "
Ia menggeleng singkat dan tersenyum nakal.
"Mari kita lalui hari-hari kita dengan cara seperti ini , penuh gairah. "


Author POV
Jinki memutar posisinya kembali menindihi Kibum , menautkan bibirnya pada bibir lembut Kibum yg dingin.
Melumat tiap jengkal bibir Kibumnya penuh gairah.
Kibum pun menanggapi setiap kecupan Jinki tak kalah agresif .
Mereka bergumul di bawah salju yg dingin .
Bergantian saling mengulum bibir dalam lengguhan yg berapi-api.
Cukup lama mereka bercumbu , sampai akhirnya Kibum melepaskan kecupan tersebut lalu memeluk tubuh Jinki erat.
"Lihatlah .... apakah kita akanmenghabuskan hari kita dengan cara seperti ini,? saljunya terus turun memenuhi tubuh kita ahaha"
Tawa ringan Jinki sambil tangan kirinya melambai keatas langit , mencoba mengambil butiran salju.

"Kau tidak akan mati kan ?"
Pertanyaan itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Kibum tanpa permisi.
Lawan bicaranya hanya tersenyum seperti menangkap apa yg Kibum maksud.
"Tentu ... aku tidak akan mati sebelum usiaku 100 tahun .. wae ? Kau tak percaya ?"
Kibum mengangkat kepalanya dan berusaha menatap wajah Jinki dari dekat.
"Jeongmal ? Entah kenapa aku merasa sedih jika sekarang kau akan meninggalkanku sendirian . Aku memang bodoh . Aku sudah mengatakan kata-kata bodohku kemarin . Faktanya aku memang mencintaimu Lee Jinki . Jadi maafkan aku dan jangan tinggalkan aku sendirian , maka aku pun takkan meninggalkanmu "
"Auhhh jinja ... apakah kau sedang mengarang novel ? Kapan kau mengatakan kata-kata bodoh ?? Dan kapan kau meninggalkanku ?
Heol ....Kau selalu mencintaiku dan menuruti semua yg ku inginkan , jadi kesimpulannya kau adalah kekasih terbaik yg ada di korea , dan hanya milikku , araseo huh ?"
Lee Jinki kini bicara seolah kalau ia tak mengetahui tentang apapun yg terjadi kemarin .
Ingatannya seperti terpusat hanya pada segala hal menyenangkan yg terjadi selama ia bersama dengan Kibum.
Senyuman polosnya selalu menjadi obat kesedihan bagi Kibum .
Kini mereka bisa tidur dan memejamkan mata dengan perasaan yg amat bahagia .
Tanpa memikirkan hal lain lagi selain menikmati pelukan hangat yg diharapkan takkan pernah terlepas lagi.
.




*****
Pukul 12 malam waktu setempat .
Detak jarum jam di sebuah koridor terdengar amat mencekam.


Trakk
Trakk
Trakkk


Suara hebtakan sepatu itu terdengar santai namun berulang di setiap detiknya.
Lee Taemin , pemuda 21 tahun itu kini menggenggam erat sebuah kalung salib di dadanya sambil memejankan matanya lekat-lekat , berdoa sungguh-sungguh demi sesuatu yg ada dalam doanya.
"Duduklah dulu Taemin-ssi , kau harus istirahat "
Ujar suara Bass Minho menyadarkannya.
"Tidak ... aku tak bisa duduk dalam keadaan seperti ini hyung , bisakah kau berhenti menyuruhku istirahat ?"

Lirih Taemin merengek , meminta agar Minho mengerti posisinya sekarang.
Mendengar umpatan ringan itu Minho akhirnya berdiri mendekati Taemin .
Membelai kedua bahu mungil pemuda yg baru saja mengisi hatinya itu dengan lembut.
"Tapi tidak dengan cara seperti ini , kau tetap harus istirahat , setidaknya makanlah sesuatu .. lihatlah wajahmu sekarang huh ?"
Minho mengomentari wajah Taemin yg pucat sekaligus kelingan mata yg mulai terlihat di kelopak mata Taeminnya.

"Bagaimana aku bisa istirahat dan makan sementara Jinki hyung berada di dalam sana huh ? Kau lihat sendiri bukan ? Ia begitu kesakitan sampai melenyapkan kesadarannya. Kau pun tahu kalau ia memiliki fisik yg kuat dan takkan tumbang jika ia masih bisa menahan rasa sakitnya . Bahkan ia belum sadar sekarang , apakah aku harus istirahat sekarang ? Pantaskah aku istirahat sekarang huh ?!!!!!!"
Setelah Taemin memperjelas pemikirannya , Minho tak berani lagi untuk berucap .
Sejujurnya Minho amat mengerti dengan apa yg di rasakan oleh Taemin.
Bahkan sekarang ingin sekali ia memeluk tubuh mungil Taemin dan memberikan rasa hangat untuknya.
"Maafkan aku ... aku hanya tidak ingin kau pun jatuh sakit. Aku hanya mengkhawatirkanmu saja . "
Taemin menatap wajah Minho yg di tundukkan.
Dalam sekejap rasa penyesalan menghampirinya.
"Mianh hyung .... aku .... hiks ... aku hanya merasa takut ... aku takut kalau Jinki hyung takkan bangun lagi , karena ... hanya ia satu-satunya keluarga yg ku miliki "
Minho segera memeluk Taemin yg kini menangis tersedu-sedu.
Hatinya ikut sakit melihat pujaan hatinya begitu terluka saat ini.
Takdir memang seringnya terlihat kejam .
Namun itulah kehidupan , takkan terjadi jika tanpa campur tangan sesuatu yg di sebut takdir.
Tanpa di duga , Jinki kini tengah berada dalam masa kritisnya di dalam ruang UGD .
Bersama para dokter ,kini Jinki berjuang untuk setidaknya mendapatkan sedikit kesempatam dari Tuhan.
Penyakitnya semakin menggerogotinya tanpa ampun .
Sejak kapan ia merasakan sakit?
Sepertinya itu bukan pertanyaan yg penting lagi .
Yg terpenting sekarang adalah mengharapkan keajaiban dari Tuhan.
Dan semoga saja janji yg ia ucapkan dalam mimpi Kibum itu menjadi kenyataan. Mimpi yg di yakini Kibum sebagai kenyataan manis di bawah hujan salju yg indah.


**Mimpi** adalah sebuah *Jalan Megah yg indah* sebuah siatuasi ketidaksadaran , tercipta dari sebuah keinginan terlarang yg kalian miliki , namun tak berani kalian akui.
Anggaplah mimpi itu sebagai keinginan Kim Kibum yg tak berani ia utarakan.
Lalu apakah Lee Jinki pun bermimpi tentang hal yg sama?



TBC_